Kenaikan Harga Kedelai Impor Menekan Pengrajin Tempe Tahu di Jateng
- 11 Apr 2026 20:02 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID., Semarang-Kenaikan harga kedelai impor mulai menekan para pengrajin tempe dan tahu di Jawa Tengah. Kondisi ini memicu keresahan karena biaya produksi meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro, mengatakan kenaikan harga kedelai telah melampaui 20 persen. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.000 per kilogram kini telah mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram.
Ia mengungkapkan para pengrajin tempe dan tahu saat ini merasakan dampak langsung dari lonjakan harga bahan baku tersebut. “karena ini Harganya itu Lebih daripada 20% Dari harga semua Yang pemula harganya Rp9.000 Sekarang sudah mencapai Rp11.000 mbak hampir 30%,” ujarnya saat dialog bersama RRI, Jum'at, 10 April 2026.
Sutrisno menambahkan, tingginya harga kedelai tidak terlepas dari ketergantungan Indonesia terhadap impor. Sekitar 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipasok dari luar negeri, terutama Amerika Serikat.
Sementara itu, Ekonom Universitas Negeri Semarang, Bayu Bagas Hapsoro, menilai kenaikan harga kedelai juga dipengaruhi faktor nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat harga bahan baku impor semakin mahal di tingkat pelaku usaha.
Ia menjelaskan bahwa meskipun pasokan kedelai secara nasional relatif mencukupi, harga tetap mengalami kenaikan. Harga kedelai naik bukan karena stok kurang, tetapi karena faktor kurs rupiah yang melemah terhadap dolar sehingga biaya impor menjadi lebih mahal.
"Artinya bahwa mahal ini bukan karena kurangnya stok tetapi karena memang harga faktor produksi naik, satu. Yang kedua, karena memang rupiah sedang melemah terhadap dolar dan ingat bahwa kita wajib beli dari US yang berbasis dolar, jadi itu yang kemudian menjadi awal," ujarnya.
Ia menekankan perlunya langkah strategis dari pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut. Di antaranya melalui penguatan produksi kedelai lokal, pengendalian harga impor, serta pemberian subsidi sebagai solusi sementara bagi pengrajin guna menjaga stabilitas harga di masyarakat.
Dalam Kessempatan yang sama, ia juga melanjutkan, bahwa yang dapat diperbaiki adalah bagaimana Indonesia mengelola dan me-manage apa yang bisa dikelola. Pemerintah tentunya tidak bisa mengendalikan perang di timur tengah, dan tidak bisa menekan negara lain, karena bukan dalam otoritasnya.
"Ya sebetulnya yang saya kira bisa dilakukan perubahan adalah ya bagaimana melakukan manajemen distribusi yang relatif mandiri di kita kan ada kooperasi itu kooperasi pengrajin tahu tempe. Mau tidak mau, kita harus membuat rencana tambahan gitu misalnya memperkuat petani lokal sehingga stok kedelai itu tidak hanya bergantung pada impor tapi kita juga bisa mandiri dengan kedelai lokal kita itu saya kira ya," imbuhnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....