APBN Jateng Tetap Sehat Saat Gejolak Global, Penerimaan Negara Rp80,72 Triliun
- 03 Okt 2026 10:14 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Kinerja APBN Regional Jawa Tengah tetap menunjukkan kondisi sehat di tengah ketidakpastian ekonomi global, dengan penerimaan negara hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp80,72 triliun. Capaian tersebut setara 65,19 persen dari target 2026 atau tumbuh 14,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, perekonomian Jawa Tengah tetap menunjukkan kinerja yang kuat dan resilien, didukung oleh stabilitas harga yang terjaga, indikator kesejahteraan yang membaik, serta pengelolaan fiskal yang sehat," kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah Bayu Andy Prasetya, Sabtu 3 Oktober 2026.
Bayu memaparkan pendapatan Negara sebesar Rp80,72 triliun itu bersumber dari penerimaan pajak sebesar Rp34,83 triliun, kepabeanan dan cukai Rp40,25 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp5,64 triliun. Capaian tersebut menunjukkan penerimaan negara di Jawa Tengah tetap tumbuh di tengah dinamika perekonomian global.
Sementara itu, realisasi Belanja Negara mencapai Rp69,50 triliun atau 69,20 persen dari pagu. Belanja tersebut terdiri atas Belanja Kementerian/Lembaga sebesar Rp25,46 triliun dan Transfer ke Daerah sebesar Rp44,03 triliun.
Secara tahunan, realisasi belanja negara tumbuh 3,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, APBN Regional Jawa Tengah hingga akhir Agustus mencatat surplus sebesar Rp11,22 triliun.
“Dengan capaian tersebut, APBN Regional Jawa Tengah mencatatkan surplus sebesar Rp11,22 triliun, yang menunjukkan kondisi fiskal tetap sehat serta mampu mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Bayu.
Adapun, Pada Triwulan II Tahun 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh sebesar 5,71 persen (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen. Capaian tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa," ujarnya.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19 persen. “Kondisi tersebut mencerminkan efektivitas pengendalian inflasi daerah sekaligus terjaganya daya beli masyarakat,” ujar Bayu.
Perbaikan juga terlihat dari tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 tercatat 4,30 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat nasional sebesar 4,65 persen, sementara tingkat kemiskinan pada Maret 2026 turun menjadi 9,21 persen. Indeks Pembangunan Manusia Jawa Tengah juga terus meningkat dan pada 2025 mencapai 74,77 atau masuk kategori tinggi.
"Optimisme masyarakat masih terjaga, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Agustus 2026 yang berada pada level 117,8. Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani meningkat menjadi 118,84, sementara Indeks Ketahanan Pangan Jawa Tengah 2026 mencapai 76,20 lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional," paparnya.
Meski kinerja ekonomi dan fiskal masih terjaga, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, terutama perlambatan aktivitas manufaktur dan dinamika ekonomi serta geopolitik global. PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 49,8 atau masih berada di zona kontraksi, yang berpotensi berdampak terhadap harga komoditas dan rantai pasok dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....