UMKM di Jateng Kian Bergeliat, Pembiayaan Ultra Mikro Melonjak 143 Persen

  • 03 Jul 2026 15:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Penyaluran pembiayaan Ultra Mikro (UMi) bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah(UMKM) di Jawa Tengah tumbuh signifikan sepanjang 2026. Hingga Mei 2026, pembiayaan UMi mencapai Rp781,38 miliar kepada 114.078 debitur atau melonjak 143,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya, mengatakan peningkatan penyaluran pembiayaan tersebut menunjukkan akses permodalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin luas. Kondisi itu sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah.

Di saat yang sama, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga menunjukkan tren positif. Realisasi KUR mencapai Rp21,53 triliun yang disalurkan kepada 391.584 debitur atau meningkat 16,81 persen secara tahunan.

"Berdasarkan pandangan Local Expert Universitas Diponegoro, tekanan ekonomi global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Namun, risiko masih relatif tinggi akibat ketidakpastian geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah yang dapat memengaruhi harga energi dan inflasi global," ujarnya, Jumat, 3 Juli 2026.

Menurut pandangan Local Expert Universitas Diponegoro, stabilitas pasar keuangan nasional tetap perlu menjadi perhatian. Pergerakan nilai tukar dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi domestik.

Di tengah tantangan tersebut, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat berkat permintaan domestik yang tetap terjaga. Kondisi itu ikut menopang aktivitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Pada tingkat regional, Jawa Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi yang termasuk tertinggi di Pulau Jawa. Capaian tersebut didorong konsumsi masyarakat, perkembangan kawasan industri, serta aktivitas di kawasan ekonomi yang terus tumbuh.

"Kondisi tersebut menegaskan bahwa fundamental ekonomi Jawa Tengah tetap kuat. Prospek pertumbuhan ekonomi ke depan masih terjaga meskipun menghadapi tekanan dari lingkungan global," tuturnya.

Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah terus memperkuat sinergi antara APBN dan APBD sebagai instrumen stabilisasi ekonomi. Upaya itu dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....