Serangan Siber Kian Kompleks, AI Perkuat Keamanan Aset Kripto

  • 02 Jul 2026 16:34 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Jakarta - Meningkatnya serangan siber di industri aset kripto mendorong pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) untuk memperkuat sistem keamanan blockchain. Teknologi tersebut dinilai mampu mendeteksi ancaman lebih cepat di tengah pola peretasan yang semakin kompleks.

CEO Indodax, William Sutanto, mengatakan perkembangan AI membuka peluang baru bagi industri aset digital untuk meningkatkan sistem perlindungan secara lebih proaktif. "Yang berubah saat ini bukan hanya jumlah serangan yang terjadi, tetapi juga tingkat kompleksitasnya," ujar William melalui siaran pers, Kamis, 2 Juli 2026.

Menurutnya, pelaku kejahatan siber kini semakin terorganisasi dan menggunakan metode yang sulit dideteksi dengan pendekatan konvensional. Oleh karena itu, sistem keamanan juga harus mampu beradaptasi lebih cepat agar mampu menghadapi pola serangan yang terus berkembang.

Data DeFiLlama mencatat sedikitnya 127 insiden keamanan sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari kasus tersebut, nilai aset kripto yang hilang mencapai sekitar US$947 juta atau hampir menyentuh US$1 miliar.

Kompleksitas ancaman terlihat dari dua kasus peretasan yang menimpa Drift Protocol dan KelpDAO pada April 2026. Berdasarkan laporan TRM Labs, kedua insiden itu menyumbang sekitar 76 persen dari total nilai aset kripto yang dicuri hingga April 2026.

Pola serangan juga terus berkembang dengan tidak hanya memanfaatkan celah pada kode program. Pelaku kini menyasar infrastruktur blockchain serta memanfaatkan kelengahan pengguna melalui berbagai teknik social engineering.

Seiring meningkatnya ancaman tersebut, AI mulai dimanfaatkan sebagai solusi untuk memperkuat sistem keamanan blockchain. Berbeda dengan metode audit konvensional, AI mampu melakukan analisis smart contract dan pemantauan risiko secara berkelanjutan dalam waktu lebih cepat.

Pemanfaatan AI mulai diterapkan sejumlah perusahaan teknologi, seperti Frosty yang dikembangkan Coinbase dan Mythos dari Anthropic. Teknologi tersebut mampu mempercepat audit smart contract, melakukan on-chain analysis, memantau perubahan perilaku protokol, hingga mendeteksi transaksi mencurigakan secara real-time.

Meski demikian, William menegaskan AI bukan satu-satunya solusi dalam menjaga keamanan aset digital. "AI bertindak sebagai resource multiplier yang mempercepat deteksi teknis," ujarnya.

Ia menilai keamanan blockchain tetap membutuhkan perlindungan berlapis yang didukung tata kelola, audit independen, manajemen akses yang ketat, serta peningkatan kesadaran pengguna. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga keamanan ekosistem aset kripto di tengah ancaman siber yang terus berkembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....