The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Kembali Melemah

  • 01 Feb 2026 17:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Jakarta— Harga Bitcoin kembali melemah di bawah level US$90.000 setelah Federal Reserve merilis pernyataan Federal Open Market Committee(FOMC) Januari 2026. Bank sentral AS tersebut menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen.

Keputusan tersebut sejatinya sesuai ekspektasi pelaku pasar. Namun, kebijakan ini tetap memicu tekanan pada aset berisiko, termasuk pasar kripto.

Sehari sebelumnya, Bitcoin sempat menguat di atas US$90.000 pada Rabu, 28 Januari 2026. Penguatan itu didorong pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan tidak khawatir terhadap pelemahan dolar AS.

Di sisi lain, arus dana institusional menunjukkan sikap lebih berhati-hati. Produk spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat tercatat mengalami arus keluar sebesar US$147,37 juta.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, dalam siaran persnya Minggu, 1 Februari 2026, menyebut pergerakan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap kebijakan moneter. Menurutnya, kebijakan tersebut sebelumnya telah diantisipasi investor.

“Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya sudah tercermin dalam ekspektasi pasar. Namun kebijakan ini belum memberikan dorongan baru,” ujar Antony.

Ia menambahkan, volatilitas jangka pendek setelah pengumuman kebijakan moneter merupakan pola yang lazim di pasar kripto global. Agenda seperti FOMC kerap menjadi momentum evaluasi bagi investor.

“Pergerakan harga mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi yang telah dikonfirmasi. Di sisi lain, sentimen positif muncul dari adopsi pemerintah dan institusional,” lanjutnya.

Salah satu sentimen positif datang dari negara bagian South Dakota yang mengajukan Rancangan Undang-Undang pembentukan cadangan Bitcoin. Aturan ini memungkinkan alokasi hingga 10 persen dana kelolaan negara bagian ke Bitcoin.

Antony menilai langkah tersebut menunjukkan penguatan fundamental Bitcoin di luar pergerakan harga jangka pendek. Menurutnya, adopsi di level pemerintah dan institusional menandakan ekosistem Bitcoin terus berkembang.

“Pelaku pasar perlu tetap selektif dan mencermati faktor makroekonomi global. Volatilitas saat ini tidak lepas dari tekanan geopolitik dan kebijakan moneter,” ucap Antony. (Rel/Dars)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....