IHSG Cetak Rekor Baru, Rupiah Terpuruk ke-Level Terlemah

  • 21 Jan 2026 10:46 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026 dengan menembus level 9.134,70. Penguatan indeks terutama ditopang oleh kenaikan saham-saham berbasis komoditas emas.

Dosen Universitas BPD Jateng, Yanuar Rachmansyah Djoko Waluyo menjelaskan data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, IHSG ditutup naik tipis 0,01 persen atau bertambah 0,82 poin ke posisi 9.134,70. Pada awal perdagangan, indeks dibuka di level 9.156,18 dan sempat menyentuh titik tertinggi harian di 9.174,47.

"Pergerakan saham yang saya pantau berlangsung variatif, dengan 336 saham menguat, 323 saham melemah, dan 143 saham bergerak stagnan. Dan, kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp16.590 triliun," ujarnya, Selasa, 20 Januari 2026.

Yanuar menambahkan penguatan IHSG salah satunya didorong lonjakan sektor basic material yang naik 2,49 persen ke level 2.389,38, seiring menguatnya saham-saham komoditas emas.

Namun sayangnya, Yanuar saat memantau di tengah capaian positif pasar saham, nilai tukar rupiah justru melemah. Pada penutupan perdagangan Selasa, 20 Januari 2026 rupiah terdepresiasi 1,5 poin atau sekitar 0,01 persen ke posisi Rp16.956 per dolar AS.

Capaian tersebut menjadi pelemahan terdalam rupiah sejak krisis 1998, ketika mata uang domestik sempat terpuruk ke level Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.

Menurut dalam kondisi tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut secara fundamental nilai tukar seharusnya bergerak sejalan dengan arus masuk modal asing, terutama ketika indikator ekonomi domestik menunjukkan perbaikan.

"Tapi pada intinya ekonomi fundamental baik, Rupiah harusnya menjadi menguat. Pelan-pelan akan menguat. Enggak ada alasan Rupiah melemah ketika modal masuk ke sini," tuturnya.

Pencapaian IHSG yang kembali menyentuh rekor tertinggi mencerminkan optimisme investor terhadap prospek perekonomian nasional. Meski demikian, pelemahan rupiah masih menjadi tantangan bagi otoritas moneter yang memiliki kewenangan penuh dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Di sisi lain, Purbaya menegaskan bahwa depresiasi rupiah sejauh ini belum memberikan tekanan berarti terhadap subsidi energi. Menurutnya, pergerakan harga minyak global justru menjadi faktor penyeimbang dalam perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

"Dolarnya naik berapa sih, enggak jauh beda dengan asumsi APBN kita dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidinya ya gampangnya relatif terkendali selama ini," ucapnya. (Rel/Put)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....