Bitcoin Cetak Rekor Tertinggi di Level US$124.000
- 19 Agt 2025 13:40 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Bitcoin (BTC) mencetak rekor tertinggi baru (All Time High) di level US$124.000. Hal ini melampaui capaian pada puncak pertengahan Juli lalu dan memicu arus modal ke aset berisiko, termasuk kripto.
Vice President Indodax, Antony Kusuma mengatakan, stabilnya inflasi Amerika Serikat mendorong ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan 17 September mendatang. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang pemangkasan kini mencapai 93,9%, menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang tahun ini.
“Selain faktor makro, penguatan ini juga didorong oleh meningkatnya pembelian korporat dalam beberapa pekan terakhir. Khususnya di tengah semakin banyaknya perusahaan yang mengadopsi strategi treasury berbasis Bitcoin,“ tuturnya dalam siaran pers, Selasa(19/8/2025).
Langkah korporasi ini tidak hanya memperkuat permintaan pasar, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap Bitcoin. Bitcoin kini mulai diposisikan sebagai aset treasury jangka panjang oleh pelaku usaha berskala global.
Antony menyatakan, kondisi saat ini menjadi titik kritis yang menggabungkan kekuatan sentimen makro dan fundamental pasar kripto. “Kita sedang melihat pertemuan dua faktor besar: inflasi yang mulai terkendali di bawah ekspektasi pasar, dan peluang pemangkasan suku bunga yang sangat tinggi,” jelasnya.
Rekor baru Bitcoin di level US$124.000 tidak hanya hasil dari optimisme jangka pendek, tetapi juga akumulasi kepercayaan pasar terhadap peran Bitcoin di masa depan. Institusi besar, termasuk korporasi publik, kini mulai menempatkan Bitcoin sebagai bagian dari strategi treasury.
“Ketika korporasi mengalihkan sebagian kas mereka ke Bitcoin, itu bukan hanya mempengaruhi harga hari ini. Akan tetapi, juga berdampak kebijakan moneter dan inflasi dalam jangka panjang,” katanya.
Antony mengingatkan, euforia pasar tidak boleh mengaburkan risiko inheren di aset kripto, reli besar sering kali diikuti oleh koreksi tajam. Hal ini adalah hukum alam di pasar berisiko tinggi bagi investor yang hanya mengejar kenaikan tanpa strategi keluar. (Rel/Dars).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....