Telkom Setujui Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus, Tunjuk Dirut Baru
- 01 Okt 2026 12:03 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menetapkan Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar secara daring, Rabu, 30 September 2026. Dalam rapat yang sama, pemegang saham independen juga menyetujui aksi korporasi pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).
Perubahan susunan pengurus tersebut diharapkan dapat memperkuat tata kelola dan mendukung agenda transformasi Telkom. Sementara persetujuan spin-off menjadi bagian dari strategi Telkom untuk mendorong monetisasi aset bernilai tinggi dan kemitraan strategis.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno menyampaikan apresiasi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang mendukung perjalanan transformasi perusahaan. Menurutnya, persetujuan spin-off menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus dan memberikan ruang bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal.
“Kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus. Sekaligus, memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal,” kata Nanang dalam siaran pers, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ia menegasakan, Telkom memastikan transformasi yang tengah dijalankan dapat memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan value creation, sekaligus menghadirkan kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan ekosistem digital Indonesia. Adapun susunan Dewan Komisaris dan Jajaran Direksi Telkom setelah RUPSLB 2026 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
- Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo
- Komisaris: Ossy Darmawan
- Komisaris: Rizal Mallarangeng
- Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah
- Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim
- Komisaris Independen: Anthony Leong
- Komisaris Independen: Deswandhy Agusman
- Komisaris Independen: Ira Noviarti
Jajaran Direksi
- Direktur Utama: Nanang Hendarno
- Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine
- Direktur Human Capital Management: Willy Saelan
- Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra
- Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba
- Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji
- Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra
- Direktur IT Digital: Kharim I. G. Siregar
- Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana
Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia juga menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai bagian dari penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2. Akta tersebut ditandatangani Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.
Melalui tahapan tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom dikonsolidasikan ke InfraNexia. Konsolidasi itu memperkuat skala InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale dengan jaringan yang membentang di berbagai wilayah Indonesia.
Secara keseluruhan, jaringan tersebut mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Total nilai transaksi dalam aksi korporasi tersebut mencapai sekitar Rp85,7 triliun.
Nanang mengatakan, InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis dan meningkatkan produktivitas aset infrastruktur. Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menyampaikan, konsolidasi memberikan ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan. Konsolidasi tersebut juga membuka peluang untuk memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional.
Sementara itu, Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan fase baru tersebut memperkuat peran InfraNexia dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai pelaku industri.
“Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan. Sekaligus, membuka lebih banyak ruang bagi mitra untuk memperluas layanan dan menciptakan peluang pertumbuhan baru tanpa harus mengembangkan seluruh infrastrukturnya secara mandiri,” ucap Lukman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....