PLTU Batang Hidupkan Kembali Kejayaan Kopi Tombo, "Emas" dari Lereng Batang

  • 13 Agt 2026 19:31 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang - PT Bhimasena Power Indonesia atau PLTU Batang mendorong kembali pengembangan kopi di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, melalui penguatan kapasitas petani dan dukungan bibit kopi Arabika. Sebanyak 5.400 bibit kopi Arabika disiapkan untuk mendukung penanaman di lahan milik petani sebagai bagian dari program Daerah Aliran Sungai (DAS) Lestari.

Desa Tombo memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah penghasil kopi di Kabupaten Batang. Sejak masa Belanda, kopi dari Tombo disebut pernah dipasarkan hingga ke pasar internasional dan menjadi bagian dari kehidupan pertanian masyarakat.

Seiring perkembangan waktu, komoditas kopi menghadapi persaingan dan berbagai tantangan pengelolaan sehingga sebagian lahan beralih ditanami komoditas lain, seperti karet dan teh. Kini, potensi kopi Tombo kembali dikembangkan dengan melibatkan masyarakat dan generasi muda sekaligus memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Bimbingan Teknis Budidaya Kopi Arabika bagi petani Desa Tombo di Pondok Sidawung, Kamis, 13 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari program DAS Lestari yang menggabungkan pengembangan ekonomi masyarakat dengan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, petani mendapatkan pengetahuan mengenai budidaya kopi Arabika, mulai dari teknik penanaman hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman. Burohim dan Anang dari Petani Kopi Surjo menjadi narasumber dengan membagikan pengalaman dan pengetahuan yang dapat diterapkan langsung oleh petani.

General Manager Stakeholder Relation PT Bhimasena Power Indonesia, Aryamir H. Sulasmoro, mengatakan dukungan kepada masyarakat tidak hanya diberikan dalam bentuk bibit. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan petani juga menjadi bagian penting agar pengembangan kopi dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Dukungan terhadap masyarakat tidak hanya berupa penyediaan bibit, tetapi juga bagaimana pengetahuan dan kemampuan petani dapat terus berkembang. Melalui kegiatan ini, kami berharap petani memiliki bekal yang cukup untuk mengembangkan kopi Arabika sekaligus mengelola lahan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Aryamir, penguatan kapasitas petani diharapkan dapat membuat program pengembangan kopi tidak berhenti pada pemberian bantuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui Bimtek diharapkan dapat diterapkan dalam proses penanaman dan pemeliharaan tanaman di lahan masing-masing.

Sebagai tindak lanjut Bimtek, para petani akan mendapatkan pendampingan dalam proses penanaman dan pemeliharaan bibit. Pendampingan tersebut diharapkan membantu petani menerapkan teknik budidaya yang telah dipelajari sekaligus menghadapi berbagai tantangan selama tanaman tumbuh.

Salah seorang peserta, Tarmujo, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai tahapan budidaya kopi. “ Ke depan akan saya terapkan dan saya pahami dalam pengelolaan tanaman kopi,” ungkapnya.

Kepala Desa Tombo, Mustajab, mengatakan antusiasme petani menjadi modal penting dalam upaya mengembangkan kembali kopi di desanya. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan dapat mendukung keberhasilan pengembangan kopi Arabika di Desa Tombo,

“Alhamdulillah, petani sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Banyak pertanyaan yang disampaikan, dan mudah-mudahan pengetahuan yang diperoleh dapat mendukung keberhasilan pengembangan kopi Arabika di Desa Tombo,” ucapnya.

Pengembangan kopi tersebut kemudian dilanjutkan dengan dukungan bibit untuk petani. Sebanyak 5.400 bibit kopi Arabika disiapkan untuk mendukung penanaman di lahan yang telah disiapkan.

Berdasarkan hasil survei Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah terhadap 27 bidang tanah, bibit tersebut direncanakan disalurkan kepada 13 petani menjelang musim hujan. Seluruh lokasi penanaman berada di lahan milik petani dan tidak berada di kawasan hutan sehingga pengembangan kopi dilakukan tanpa membuka kawasan hutan baru.

Pengembangan kopi di Desa Tombo juga diarahkan untuk berjalan seiring dengan upaya menjaga fungsi lingkungan, khususnya kawasan Daerah Aliran Sungai. Dengan penanaman di lahan milik petani tanpa membuka hutan baru, program ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....