Konflik Timur Tengah, Bitcoin Bergejolak

  • 05 Mar 2026 14:48 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Pergerakan Bitcoin menunjukkan volatilitas tinggi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasar global. Gejolak geopolitik tersebut mendorong perubahan sentimen investor dan memengaruhi berbagai kelas aset, termasuk kripto.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai volatilitas tajam tersebut mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makroekonomi. “Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven,” ujarnya dalam siaran pers, 5 Maret 2026.

Sebelumnya, ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian meluas setelah penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Serangan balasan Iran terhadap fasilitas Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab turut memperparah situasi.

Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi, dengan minyak dilaporkan naik hingga US$80 per barel. Ketidakpastian tersebut juga memicu sentimen risk-off di pasar keuangan dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta stabilitas pasokan global.

Di tengah tekanan global, harga emas menguat di kisaran US$5.100 per troy ons sebagai aset safe haven. Sementara itu, saham teknologi Amerika Serikat mengalami rebound terbatas setelah sempat tertekan.

Pasar kripto yang beroperasi selama 24 jam tanpa henti menjadi salah satu indikator paling responsif terhadap perubahan sentimen. Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat turun ke level US$63.100 pada akhir pekan.

Selanjutnya, Bitcoin melonjak ke US$70.000 di awal pekan dan kini bergerak di kisaran US$68.000 dengan kapitalisasi pasar kripto global sekitar US$2,33 triliun. Menurut Antony, dalam situasi seperti ini sentimen global dan arah kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi aset berisiko, termasuk saham dan kripto.

“Pada fase awal gejolak, investor umumnya bersikap risk-off untuk menjaga likuiditas. Jika ketidakpastian berlanjut, sebagian investor mempertimbangkan aset yang lebih defensif,” ucapnya.

Ia mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan berdasarkan FOMO serta tetap menerapkan diversifikasi portofolio dan manajemen risiko secara disiplin. Langkah rasional dinilai penting untuk menghadapi pasar yang bergerak cepat akibat dinamika geopolitik global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....