Ketika Angkringan Naik Kelas, Tapi Tak Kehilangan Jiwa
- 11 Feb 2026 11:22 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Wedangan Hik Gaul Pak Mul di Popongan Karanganyar bukan sekadar tempat makan murah. Ia menjelma ruang sosial baru tempat lintas kelas bertemu tanpa sekat.
Dari mahasiswa, pekerja kreatif, hingga pegawai kantoran, semua duduk sejajar di bangku kayu panjang. Tidak ada meja VIP, tidak ada jarak sosial, yang ada hanya obrolan, kopi panas, dan kesederhanaan yang dipertahankan.
Dulu, angkringan identik dengan wong cilik, buruh malam, dan perut kosong selepas kerja. Kini, konsep itu bergeser. Angkringan seperti Hik Gaul Pak Mul menangkap perubahan zaman tanpa meninggalkan akarnya.

Aneka Makanan Merakyat
Menu tetap merakyat, jadah bakar, timus, sate usus, gorengan, juga nasi rames dan bubur. Namun penyajiannya lebih rapi, pilihan minuman lebih variatif, dan suasana dibuat nyaman bagi generasi urban.
“Semua makanannya ga ada yang gagal, enak semua, bahkan tadi juga ada bubur sambel goreng. Juga wedang jahe rempah juga segar,” ungkap Tika seorang pengunjung Sabtu, 7 Februari 2026
Transformasi ini bukan kebetulan. Ada perubahan pola hidup masyarakat kota. Kebutuhan akan tempat nongkrong yang murah, egaliter, dan tidak menuntut citra.
“Di tengah menjamurnya kafe mahal, angkringan modern justru menawarkan alternatif tempat makan. Datang apa adanya, duduk sama rendah, pulang dengan perut kenyang dan kepala ringan,” kataseorang pengunjung, Iwan
Pak Mul Sang Perintis
Pak Mul, sang perintis, membaca peluang itu dengan jeli. Ia tidak “memoles” angkringan hingga kehilangan identitas, tapi menyesuaikannya agar relevan. Itulah kunci bertahannya wedangan ini di tengah
kompetisi kuliner yang makin keras.
Fenomena Wedangan Hik Gaul Pak Mul menandai satu hal penting yakni budaya lokal tidak harus punah untuk mengikuti zaman. Ia bisa beradaptasi, tumbuh, dan bahkan menjadi simbol perlawanan halus terhadap gaya hidup konsumtif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....