Palawija Batang Coffee Paparkan Strategi Marketing Kopi Kekinian
- 08 Feb 2026 17:48 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Batang - Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya kembali menggelar pelatihan terpadu budidaya kopi, secara berkelanjutan. Pelatihan yang berkolaborasi bersama Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) ini menghadirkan pemateri dari Yuly Palawija Batang Coffee, Sustanto.
Pemateri itu memaparkan strategi agar ke depan para anggota KUPS mampu menjalin kemitraan dengan pihak terkait, agar produknya mampu memenuhi selera pasar. Anggota KUPS berkembang makin maju dan bergerak secara konsisten mengupayakan agar kualitas kopi yang dihasilkan dapat diterima pasar luas.
"Semoga KUPS dari berbagai desa bisa menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas pecinta kopi, sehingga memperluas penjualan produk sesuai keinginan konsumen," kata Sustanto di Deles Dharmawangsa Agro Forestry, Bawang, Kabupaten Batang, Minggu 8 Januari 2026.
Setelah anggota KUPS memperoleh pengetahuan secara mendalam, kata dia, nantinya dapat menjual produk-produknya langsung kepada pembeli atau pasar yang telah bermitra. Tidak hanya pola dan ilmu penjualan produk yang diserap, namun lebih dari itu, mampu melakukan penanaman kembali agar meningkatkan bibit kopi terbaiknya.
"Hasil penjualannya tidak seluruhnya dinikmati, tapi bisa untuk mempersiapkan penanaman berikutnya. Jadi pascapanen, bibit kopi akan terpenuhi, demi kualitas yang terus makin baik," tegasnya.
Peserta yang didominasi kaum perempuan dilatih secara intensif, agar terus mengembangkan potensi kopi, hingga mampu membantu menggerakkan perekonomian keluarganya. Sumini Ketua Kups Perempuan Desa Bismo Blado mengharapkan, pelatihan ini membawa dampak positif bagi para kaum ibu untuk berperan aktif membantu perekonomian keluarga.
"Ilmunya bermanfaat sekali, karena langsung dari pakarnya. Saya pingin kalau sudah dapat ilmunya bisa mendapatkan keuntungan terus hasilnya ditabung buat kebutuhan di masa depan," sanjungnya.
Di sisi lain, pengelolaan kopi oleh KUPS Perempuan masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain penerapan teknik budidaya yang belum sepenuhnya berkelanjutan, keterbatasan pengetahuan pasca panen. Ini berdampak pada mutu produk, serta belum optimalnya akses pasar dan kemitraan dengan pelaku usaha kopi.
"Sementara permintaan pasar terhadap kopi yang diproduksi secara berkelanjutan, ramah lingkungan, dan memiliki nilai sosial terus meningkat. Jadi pelatihan ini memang kami butuhkan, agar produk yang dihasilkan berkualitas," tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....