Jelang Imlek, Etnis Tionghoa Memulai Dengan Ketuk Pintu

  • 08 Feb 2026 16:05 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Tradisi Ketuk Pintu kembali digelar sebagai penanda awal Tahun Baru Imlek 2026. Aroma dupa perlahan memenuhi udara di Klenteng Tay Kak Sie, bercampur cahaya lilin yang berkelip di siang hari.

Ritual ini menjadi pembuka resmi Pasar Imlek Semawis, sekaligus wujud doa bersama lintas budaya agar seluruh rangkaian perayaan berjalan lancar dan penuh keberkahan. Ketua KOPI Semawis, Harjanto Kusuma Halim, mengatakan Ketuk Pintu memiliki makna filosofis yang dalam. 

Tradisi ini dimaknai sebagai “kulo nuwun” atau permohonan izin kepada para leluhur dan semesta. Bukan sekadar ritual seremonial, ini bentuk penghormatan dan pernyataan izin. 

"Kami mohon doa restu dari sembilan klenteng di Pecinan. Keberagaman di sini bukan untuk dipamerkan, tapi untuk dijalani sehari-hari,” katanya saat kegiatan Ketuk Pintu di Klenteng Tay Kak Sie, Sabtu 7 Februari 2026.

Harjanto mengungkapkan pada momen ini, peserta perempuan juga mengenakan kebaya mulai dari kebaya encim hingga kebaya kutu baru, sementara peserta laki-laki memakai sarung atau busana adat Nusantara. Bahkan, generasi muda turut meramaikan suasana dengan cosplay ala Jepang.

Sosok Cenggih, Sun Gokong, Dewi Kwan Im, Hanoman, Gatotkaca, hingga tokoh wayang hadir dalam iring-iringan tradisi ini. “Kalau bisa, Ketuk Pintu ini jadi seperti festival cosplay budaya,” ucapnya. 

Dalam rangkaian Ketuk Pintu, pihaknya juga membagikan air suci dari lima klenteng kepada masyarakat. Air tersebut menjadi simbol doa, perlindungan, dan harapan baik bagi siapa pun yang menerimanya.

Tak hanya itu, pengunjung juga disuguhi kuliner khas Muslim Tiongkok dari wilayah Xinjiang. Makanan khas Muslim Tiongkok dari Sinjiang ini mungkin banyak yang belum pernah mencoba. 

"Ini juga bagian dari memperkenalkan keberagaman,” katanya. Diketahui, tahun ini Pasar Imlek Semawis digelar beriringan dengan Pasar Dugderan, tradisi jelang Ramadan khas Kota Semarang. 

Dua agenda budaya besar ini diharapkan tidak saling bersaing, melainkan saling menguatkan.  “Budaya Tionghoa, Islam, dan Jawa itu kalau digabung seperti masakan ditambah garam rasanya jadi makin enak,” ucapnya. 

Ia optimistis, sinergi Pasar Imlek Semawis dan Dugderan akan meningkatkan kunjungan wisata sekaligus menggairahkan ekonomi kota. Antusiasme pelaku UMKM pun terlihat tinggi, membawa produk dan semangat baru di tengah harapan kebangkitan ekonomi 2026 setelah perlambatan pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari menilai rangkaian Imlek tahun ini mencerminkan identitas Semarang sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi.

“Hari ini kita melakukan doa bersama atau Ketuk Pintu, memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar perayaan Imlek nanti diberikan kelancaran, kesuksesan, dan keberkahan untuk semua,” ujarnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....