Mengintip Wayang Golek Menak Gaya Yogyakarta
- 22 Sep 2026 15:40 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Wayang Golek Menak Yogyakarta merupakan pertunjukan Wayang Golek yang menggunakan Serat Ménak sebagai sumber cerita. Serat Ménak merupakan karya sastra Persia Qisaa’I Emr Hamza, yang masuk ke Melayu sekitar tahun 1511.
Karya sastra ini dikembangkan dalam bentuk prosa dengan judul Hikayat Amir Hamzah. Selain itu, karya ini juga disadur ke dalam bahasa Jawa oleh Ki Carik Narawitan dengan huruf Jawa dalam bentuk tembang macapat.
Wayang Golek Menak mengalami masa kejayaan sekitar tahun 1950-an di Yogyakarta. Pertunjukan wayang ini dipopulerkan oleh Ki Widiprayitna yang mendapat julukan sebagai dhalang nuksméng wayang karena dalam menggerakkan wayang nampak hidup.
Wayang Golek Menak Yogyakarta terbuat dari bahan dasar kayu, yang terdiri dari bagian kepala, badan dan tangan. Busana yang dikenakan wayang ini terdiri dari baju untuk bagian atas dan kain (jarit) sebagai penutup bawahnya.
Sama halnya dengan Wayang Kulit Purwa, pertunjukan Wayang Golek Menak diiringi seperangkat gamelan lengkap. Salah satu instrumen yang menjadi ciri khasnya yakni Rojèh.
Alat musik Rojéh berfungsi memberikan penekanan “rasa” terutama dalam adegan seperti pukulan, tendangan, bantingan, dan sebagainya. Sementara Sulukan Wayang Golek Menak Yogyakarta sebagian besar mengacu pada Wayang Kulit Purwa.
Hanya cakepan atau syairnya disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak seperi Wayang Kulit Purwa, tata panggung Wayang Golek Menak Yogyakarta tidak menggunakan gawang untuk membentangkan kelir.
Posisi debog (batang pisang) juga lebih tinggi guna menyesuaikan teknik cepengan dan sabetan. Seperti pertunjukan wayang golek pada umumnya, wayang golek Jogjakarta ini bisa dinikmati penonton dari arah depan dan belakang panggung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....