Tarik Minat Gen Z, Pembatik Batang Promosikan Batik Rifaiyah hingga Mancanegara

  • 07 Sep 2026 19:27 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang - Budaya membatik khususnya motif Rifaiyah khas dari Kabupaten Batang kian dikenal di mata dunia, usai ditunjukkan dalam sebuah pameran di Kota Darwin Australia oleh Tri Handayani Mulyati dan Nandiroh. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk mengenalkan seni membatik Rifaiyah di hadapan warga Kota Darwin, sebagai salah satu upaya untuk menarik minat generasi z Kabupaten Batang mau melanjutkan estafet kemampuan membatik.

Tri Handayani dan Nandiroh warga Gang Randu Watesalit betul-betul tak menyangka, kemampuannya membatik Rifaiyah mampu membawanya menyeberangi benua Kanguru hingga berkesempatan membagikan ilmunya. Tri Handayani sejak kecil sengaja mempelajari teknik membatik langsung dari para pakar setempat hingga menguasai berbagai motif dan berhasil membawanya ke Kota Darwin.

"Saya sudah mbatik dari kelas 4 SD, dari maestro sini sampai mahir. Ini karena kesukaan sama batik, akhirnya dari tahun 80-an sampai sekarang mbatik Rifaiyah terus," bebernya, saat ditemui di kediamannya, Gang Randu Watesalit, Kabupaten Batang, Senin 7 September 2026.

Kesempatannya untuk bertandang ke Kota Darwin merupakan undangan khusus dari warga Australia, Sarah Renie yang merupakan kawan baik putranya Rully Wahyu Kurniawan yang berprofesi sebagai pengajar seni rupa di SMP Negeri 3 Bandar. "Di sana saya 10 hari ngajari warga Darwin sama pameran, responsnya positif dan banyak yang tertarik untuk mempelajari teknik membatik," terangnya.

Ia pun bersyukur beberapa batik Rifaiyah laku terjual saat digelarnya pameran yang tentu berdampak positif bagi perekonomian para pembatik. "Alhamdulillah bisa laku satu helai kain batik Rifaiyah seharga AUD 2.200 atau setara dengan Rp24 juta," terangnya.

Ia bersyukur bisa menjejakkan kaki ke Kota Darwin berkat undangan dari Sarah Renie hingga mampu menjual batik Rifaiyah motif Relawati Sogan, Relawati Kepyur Mener warna ungu, Gendagan Abang Biru, Gendagan warna Ungu, Selendang Lires, Selendang Lires Modang, Selendang Kecebong Modang dan Sarung Relawati Beras Wutah.

Ia pun sangat prihatin dg minimnya generasi z yang mau melanjutkan estafet kemampuan membatik Rifaiyah, di tengah kecanggihan teknologi. "Karena mbatik itu proses dan dapat duitnya lama, akhirnya generasi z sekarang lebih suka jualan atau buat konten yang cepat duitnya, itu sangat memprihatikan kami, karena belum ada penerusnya," ujarnya.

Untuk meregenerasi pembatik muda, ia bersama sejumlah pembatik di wilayah Gang Randu dan sekitarnya berencana untuk membuka kelas pelatihan. "Ke depan kami ingin membuka pelatihan mulai TK, SD, SMP, SMA dan umum biar ada penerusnya," ungkapnya.

Sementara, Nandiroh menceritakan kegembiraan saat membagikan ilmu membatiknya di hadapan puluhan warga Darwin. "Ya karena mereka itu orang Australia mbatiknya harus sambil duduk di kursi".

Terkait dengan kendala bahasa, ia tak mempermasalahkan karena ada penerjemah yang disiapkan sehingga memudahkan dalam berkomunikasi. "Alhamdulillahnya kok ada yang bisa ngomong bahasa Inggris, ya jadi mudah ngomongnya," bebernya.

Di sisi lain, ia juga mengharapkan ada regenerasi pembatik muda dari Batang yang mau belajar dengan tekun sehingga kemampuan membatik tidak punah. "Apalagi kemampuan mewarnai seperti saya, sangat sedikit, jadi semoga kunjungan kami ke Darwin bisa menggugah semangat generasi z Batang," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....