FOMO Tak Selalu Buruk, Bisa Jadi Pintu Gen Z Kenal Budaya Indonesia
- 27 Agt 2026 08:35 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Fenomena fear of missing out atau FOMO kerap dikaitkan dengan kebiasaan anak muda mengikuti tren di media sosial. Namun, Influencer Tania Callista, melihat FOMO dari sisi berbeda, terutama ketika tren tersebut membawa generasi muda lebih dekat dengan budaya Indonesia.
Menurut Tania, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara anak muda mengenal berbagai tren, termasuk fashion dan gaya berpakaian. TikTok dan Instagram menjadi ruang bagi generasi muda untuk menemukan inspirasi sekaligus mengikuti sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.
Menurutnya, kecenderungan mengikuti tren tidak selalu memberikan dampak negatif jika diarahkan pada hal-hal yang positif. “FOMO itu sebenarnya nggak selalu buruk, kita bisa arahkan itu ke hal yang baik, salah satunya ini,” ujar Callista Senin, 24 Agustus 2026.
Salah satu hal yang ingin ia dorong adalah ketertarikan anak muda terhadap batik, kain, dan berbagai unsur busana tradisional Indonesia. Tania sendiri kerap membagikan konten styling yang memadukan pakaian modern dengan batik maupun selendang.
Gaya tersebut kemudian mendapatkan perhatian dari pengguna media sosial yang mulai tertarik mencoba pakaian tradisional. Ia bahkan pernah mendapat komentar dari orang yang mengaku terinspirasi menggunakan gaya tersebut dalam kegiatan mereka.
“Kak, aku jadi terinspirasi dengan pakai ini,” menjadi salah satu respons yang diterima Tania dari pengikutnya. Menurut Tania, respons tersebut menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi pintu untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda.
Budaya tidak selalu harus diperkenalkan melalui cara yang formal dan kaku agar dapat menarik perhatian anak muda. Melalui konten yang ringan, lucu, dan sesuai karakter platform, kain tradisional justru dapat terlihat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tania juga menilai pendekatan dalam memperkenalkan budaya perlu disesuaikan dengan karakter pembuat konten dan platform yang digunakan. Konten humor dapat menjadi pilihan bagi kreator yang memiliki karakter playful, sementara sejarah budaya dapat dikemas lebih informatif.
Dengan pendekatan tersebut, tren yang awalnya hanya diikuti karena FOMO dapat berkembang menjadi ketertarikan untuk mengenal budaya lebih jauh. Bagi Tania, media sosial bukan hanya tempat mengikuti tren, tetapi juga bisa menjadi ruang untuk menciptakan tren positif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....