Mengenal Wayang Golek Lupit dan Slenteng, Mascot Kabupaten Tegal
- 12 Agt 2026 08:43 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Melihat gebrakan Ki Enthus Susmono saat masih menjabat sebagai Bupati Tegal pada masanya, cukup menarik untuk dicermati. Bukan hanya diranah kebijakan publik ia besut namun ada yang menarik ketika ia mengangkat simbol Lupit - Slenteng sebagai mascot Kabupaten Tegal.
Seorang ahli menyimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan salah satu fenomena yang paling mudah di observasi, tetapi menjadi salah satu hal yang paling sulit untuk dipahami , (Richard L. Daft, 1999). Mendefinisikan kepemimpinan merupakan suatu masalah yang kompleks dan sulit, karena sifat dasarnya sangat kompleks.
Barangkali sama sulitnya ketika kita menerawang perilaku kepemimpinan Enthus Susmono, sebagai Bupati Tegal. Seniman kondang ini pada masa hidupnya terkenal produktif dengan gebrakan - gebrakan barunya.
Karir Enthus sebagai dalang memang cukup gilang gemilang, reputasinya didengar oleh kalangan Internasional. Lewat karyanya wayang rai uwong dan wayang golek: Lupit dan Slenteng, Enthus berhasil mendobrak dan keluar dari pakem pewayangan.
Nampaknya saat itu Enthus ingin mereduksi ketokohan lupit –slenteng yang kerap tampil tidak tedheng aling-aling dalam bertutur. Enthus melalui Lupit – Slenteng inilah yang justru kemudian dikatakan oleh Prof. Abu Su’ud sebagai prototype wong Tegal.
Tokoh Lupit-Slenteng memiliki perwatakan apa adanya dan selalu menjalani hidup penuh keikhlasan ini diharapkan menjadi filosofi warga Kabupaten Tegal. Tokoh Lupit-Slenteng selalu memberi celotehan-celotehan menarik, ringan dan renyah, tanpa melupakan makna yang tersirat dalam celotehannya.
Apabila melihat wujud dari golek lupit-slenteng, kita mungkin tidak menduga jika tokoh tersebut ternyata memberikan peran sentral. Walaupun Lupit-Slenteng ini bukan tokoh utama dalam pertunjukan wayang golek ala Ki Enthus.
Kehadirannya menjadi warna pertunjukan Wayang golek Tegal dimana Lupit - Slenteng adalah suara rakyat. Dalam dunia pedalangan, Lupit Slenteng sangat mirip tokoh Gareng dan Bagong yang juga representasikan ketokohan kawula (rakyat)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....