Saparan Desa Gogik, Upaya Hidupkan Kembali Warisan Leluhur

  • 03 Agt 2026 15:40 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Magelang – Dusun Gogik, Ngablak Kabupaten Magelang kembali menggelar Saparan dengan Tema “Nandur Tradisi, Ngunduh Pakarti”. Diinisiasi pemuda yang tergabung dalam Kompag Sigra Jumangkah dan masyarakat setempat acara digelar pada hari Minggu, 2 Agustus 2026.

Harapannya acara tersebut bukan sekedar menjadi perayaan budaya tahunan, namun juga menjadi gerakan bersama untuk menggali merawat dan menghidupkan kembali warisan leluhur. Berbagai unsur tradisi yang ditampilkan merupakan hasil penelusuran sejarah, ingatan kolektif para sesepuh, serta praktek budaya yang pernah berkembang di masyarakat.

Rangkaian Saparan diawali dengan kegiatan tirakatan dan bersih sarean sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Puncak acara meliputi Nyebar Sajen, Kirab Budaya, Umbul Donga, Kembul Bujana, dan ditutup dengan pagelaran Ringgit Purwo.

Nyebar Sajen dilaksanakan pada Minggu pagi 2 Agustus 2026. Kegiatan diawali dengan doa bersama di kediaman Kepala Dusun Gogik, Rangga Pramana Y yang dipimpin Sutopo dan dilanjutkan menuju tujuh mata air yang tersebar di wilayah dusun.

Prosesi ini bukan merupakan bentuk pemujaan ataupun praktik kemusyrikan, melainkan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Penghormatan terhadap tujuh mata air menjadi simbol pentingnya menjaga kawasan resapan, vegetasi, dan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Puncak kemeriahan Saparan diwujudkan melalui Kirab Budaya yang menggambarkan perjalanan kehidupan masyarakat Gogik yang berawal dari rasa syukur kepada Tuhan. Kemudian diwujudkan melalui kerja keras mengolah alam, hidup selaras dengan lingkungan, menjaga kebersamaan, melestarikan budaya, hingga mempererat persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kirab diawali oleh Pewetu, gunungan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas berkah alam dan persatuan warga, dilanjutkan Pangon yang menggambarkan kehidupan peternakan dan nilai tanggung jawab. Sunggen yang melambangkan ketangguhan dan kerja keras masyarakat desa, Pawon sebagai simbol keberkahan keluarga dan ketahanan pangan, serta Dolanan yang menampilkan permainan tradisional sebagai media pendidikan karakter bagi anak-anak.

Kirab kemudian menghadirkan Kesenian Budaya, menampilkan kesenian Soreng oleh para pemuda dan Warok oleh anak-anak sebagai simbol hidupnya budaya dalam kehidupan masyarakat. Rangkaian kirab ditutup dengan Meto'an Saparan, yaitu arak-arakan tumpeng, ingkung, dan hasil bumi yang akan digunakan dalam doa bersama dan kenduri warga sebagai simbol syukur, gotong royong, dan persaudaraan.

Setelah kirab budaya, masyarakat mengikuti Umbul Donga sebagai doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan desa. Setelah itu dilanjutkan dengan Kembul Bujana, tradisi makan bersama yang mencerminkan semangat gotong royong dan persaudaraan tanpa membedakan status sosial.

Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan pagelaran Ringgit Purwo yang menjadi media pelestarian nilai-nilai moral dan filosofi kehidupan masyarakat Jawa. Saparan Gogik 2026 menjadi bukti bahwa tradisi leluhur tetap relevan di tengah kehidupan modern.

Melalui kolaborasi antara generasi muda, sesepuh, perangkat dusun, komunitas budaya, akademisi, jurnalis, dan seluruh masyarakat, tradisi tidak hanya dirawat sebagai warisan masa lalu. Namun dihidupkan kembali sebagai fondasi masa depan, ditengah kemajuan jaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....