Paregreg, Perang Politik dan Perebutan Kekuasaan Majapahit

  • 28 Jul 2026 09:32 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Sekilas sejarah pahit kerajaan Majapahit dalam perang saudara yang menyengsarakan rakyat pada saat itu. Peperangan politik dan perebutan kekuasaan yang disebut perang paregreg.

Pihak istana timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi mengalami kekalahan atas wilayah barat yang dipimpin Wikramawardhana. Meskipun kemudian kerajaan timur dan barat bersatu, namun imbas dari perang saudara ini adalah lepasnya beberapa wilayah kekuasaan Majapahit.

Pada tahun 1405 tercatat bahwa daerah Kalimantan Barat dikuasai kerajaan Cina, Palembang, Melayu dan Malaka melepaskan diri dan memilih berdiri sendiri. Beberapa wilayah tersebut kemudian mengembangkan bandar – bandar perdagangan, dilanjutkan lepasnya Kerajaan Brunei.

Selain itu pihak Wikramawardhana harus membayar ganti rugi atas meninggalnya 170 orang Cina yang diutus oleh Dinasti Ming. Cina telah mendengar adanya perpecahan dan konflik internal di kerajaan Jawa.

Laksamana Cheng Ho adalah utusan duta besar dari Cina untuk mengunjungi kedua istana ini. Atas kematian kecelakaan orang Cina yang ada di istana timur tersebut, pihak istana barat kemudian dikenakan denda sebesar 60 tahil kepada Cina.

Sampai tahun 1408, Majapahit hanya bisa membayar denda sebesar 10.000 tahil. Dan pada akhirnya Kaisar Yung Lo membebaskan denda dengan alasan kasihan.

Peristiwa ini kemudian dicatat oleh Ma Huan, sekrataris Cheng Ho, dalam bukunya yang berjudul Ying-Ya-Sheng-Lan. Setelah berakhirnya perang Paregreg, Wikramawardhana menikahi putri Bhre Wirabumi untuk dijadikan selir.

Dari perkawinan ini kemudian lahir Suhita yang kemudian naik tahta pada 1427 sebagai pengganti Wikramawardhana. Pada pemerintahan Suhita inilah, pembalasan dendam kematian kakeknya Bhre Wirabhumi dilakukan dengan menghukum mati Raden Gajah pada tahun 1433.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....