Manuskrip Daun Lontar di Kedakan Simpan Jejak Peradaban Lereng Merbabu
- 23 Jul 2026 20:10 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang
- manuskrip
- tulisan Jawa Kuna
RRI.CO.ID, Kabupaten Magelang – Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, menyimpan manuskrip kuno di atas daun lontar yang diduga menjadi jejak penting peradaban di lereng Gunung Merbabu. Naskah tersebut hingga kini masih menjadi misteri karena belum berhasil dibaca secara utuh meski telah beberapa kali diteliti.
Kepala Desa Kenalan, Joko Santoso, mengatakan manuskrip itu terdiri atas sekitar 35 lembar daun lontar yang disimpan bersama pusaka wayang di dalam peti kayu kecil. Keberadaan naskah tersebut telah lama dijaga sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Dusun Kedakan.
“Ada satu bendel sekitar 35 lembar naskah tulisan di atas daun lontar yang disimpan dalam peti kecil bersama pusaka wayang. Naskah daun lontar hingga kini belum bisa dibaca, bahkan oleh para peneliti sekalipun,” kata Joko Santoso, Kamis, 23 Juli 2026.
Upaya pembacaan telah dilakukan beberapa kali, termasuk oleh mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi tetapi belum menunjukkan kesimpulan yang pasti karena bentuk tulisan pada naskah dinilai berubah-ubah. Tulisan pada daun lontar tersebut juga bukan menggunakan tinta, melainkan berupa goresan menyerupai ukiran pada permukaan daun.
Secara kasat mata, aksara pada manuskrip menyerupai tulisan Jawa Kuna dengan nuansa Hindu-Buddha. Tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menemukan kemiripan pola tulisan manuskrip Kedakan dengan koleksi yang tersimpan di Perpustakaan Nasional.
"Dari penelitian, diperkirakan ada sekitar 1.486 naskah, semuanya mengarah berasal dari Kedakan, ditandai dengan nama Ki Hajar Doko. Dari situlah muncul dugaan kuat naskah di Kedakan merupakan bagian dari jaringan manuskrip besar Merapi-Merbabu,” katanya.
Nama Ki Hajar Doko disebut berulang dalam berbagai manuskrip. Nama tersebut diyakini sebagai tokoh padepokan Kedakan yang hidup pada era Majapahit sekitar abad ke-14.
Hingga kini, manuskrip Kedakan masih disimpan dengan cara tradisional menggunakan pembungkus kain mori di dalam peti kayu tanpa paku maupun lem. Pusaka tersebut hanya dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu, seperti bulan Syawal dan Safar, bersamaan dengan ritual pewayangan.
Secara terpisah, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji menilai manuskrip lontar Kedakan menjadi bukti bahwa kawasan lereng Gunung Merbabu pernah menjadi pusat literasi dan ilmu pengetahuan. Menurutnya, manuskrip tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menyimpan kekayaan pengetahuan dari masa lampau.
Pemerintah Kabupaten Magelang kini mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk mempercepat penerjemahan manuskrip, sekaligus menelusuri salinan naskah yang diduga tersebar hingga ke luar negeri, termasuk Belanda. “Kalau Borobudur itu bukti fisik peradaban. Sedangkan, manuskrip Kedakan ini bukti intelektualnya, dan berisi tentang pengobatan, astronomi, pertanian, sastra hingga astrologi,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....