Ritual Kalang Obong oleh Suku Kalang

  • 22 Jul 2026 13:15 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Kalang Obong merupakan sebuah ritual upacara kematian sakral bagi masyarakat Suku Kalang, khususnya bagian Kota Kendal. Upacara ini dilaksanakan untuk memeringati hari kematian seseorang pada periode tujuh hari, satu tahun (sependhak), atau seribu hari.

Namun, upacara Kalang Obong biasanya digelar pada periode seribu hari kematian seseorang dan digelar secara meriah. Pelaksanaannya berjalan lebih dari dua minggu, hal itu disebabkan oleh persiapan omah singgah memakan waktu dua minggu.

Yang menjadi ciri khas dari upacara ini adalah persembahan satu ekor kerbau besar dengan golekan sebagai perantara arwah. Golekan atau boneka kayu menjadi media bagi arwah Wong Kalang yang telah meninggal.

Golekan terbuat dari triplek yang dibentuk seperti manusia, ia dikenakan pakaian baru sesuai kebiasaan almarhum yang akan diupacarakan. Boneka kayu tersebut diletakkan di atas kasur kapuk dengan keranjang besar di belakangnya yang penuh oleh perlengkapan sandang.

Sebelum golekan dibacakan do’a dan mantra dari dukun spiritual Suku Kalang, terdapat adegan cambuk kerbau sebagai pembuka. Kerbau yang dicambuk merupakan kerbau yang sudah disembelih dan diambil daging jeroannya, sehingga hanya tersisa kulit dan tulang.

Kerbau dicambuk oleh bapak-bapak yang berperan sebagai petani, hal itu mengacu pada kegiatan parit di sawah. Sambil mencambuk, diutarakan pula mantra yang dibungkus dalam bentuk guyonan sehingga membuat penonton tergelak dibuatnya.

Setelah prosesi cambuk kerbau, golekan mulai dibacakan do’a dan mantra oleh dukun, kemudian disusul pengambilan sesajen oleh keluarga. Sesajen tersebut diambil lalu dikembalikkan di atas nampan—hal itu memiliki arti bahwa keluarga bersangkutan menerima rezeki.

Bagi Wong Kalang, kerbau menjadi hewan yang dipercayai sebagai kendaraan untuk ditunggangi menuju akhirat bagi mendiang. Wong Kalang mempercayai adanya kehidupan akhirat, oleh karena itu barang-barang yang dipersiapkan untuk golekan sebagai bekal di akhirat.

Di puncak upacara, golekan akan dibakar dengan api menyala bersama rumah buatan dan barang-barang ‘bekal’ bagi arwah. Setelah pembakaran golekan, dilanjutkan sesi udik-udikan atau memberikan uang recehan dengan cara melempar dari keluarga mendiang.

Sayangnya, upacara Kalang Obong ini sudah jarang dilakukan oleh Suku Kalang. Selain berkurangnya populasi Suku Kalang, upacara ini ternyata mengeluarkan dana sangat besar— lebih dari seratus juta untuk pelaksanaannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....