Kementerian Kebudayaan: Masa Depan Batik Ditentukan Generasi Muda

  • 26 Jun 2026 12:42 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Batik tidak hanya menjadi kain tradisional, tetapi juga merupakan identitas bangsa Indonesia yang telah diakui dunia. Penggerak dan Pamong Budaya Kementerian Kebudayaan, Rully Syahputra, menegaskan, batik merupakan warisan budaya yang wajib dilestarikan dan terus dikembangkan oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

"Batik sangat penting bagi identitas bangsa Indonesia. Selain menjadi warisan budaya dari nenek moyang, batik juga telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2009, ini menjadi prestasi Indonesia dalam memperkenalkan budaya kepada dunia," kata Rully.

Menurutnya, pelestarian batik tidak hanya sebatas mengenakan kain batik. Akan tetapi, juga mengembangkan berbagai motif, desain, hingga regenerasi para perajin batik agar warisan tersebut tetap lestari.

Rully menilai minat generasi muda terhadap batik saat ini mulai meningkat. Hal itu terlihat dari berkembangnya tren wastra Nusantara, seperti batik, lurik, dan tenun, yang kini hadir dalam berbagai desain modern.

"Sekarang batik tidak lagi identik dengan pakaian formal. Batik sudah hadir dalam berbagai produk seperti jaket, pakaian kasual, hingga berbagai busana kreatif. Bahkan kegiatan seperti fashion show dan ajang putra-putri batik semakin banyak diselenggarakan," katanya.

Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan dalam mengenalkan batik kepada anak-anak dan remaja, khususnya Generasi Alpha. Sebagian dari mereka masih menganggap batik sebagai pakaian yang hanya dikenakan orang tua.

"Tantangan terbesar bukan hanya mengajak anak muda memakai batik, tetapi juga menumbuhkan minat mereka untuk belajar membatik. Saat ini banyak pengrajin batik yang sudah berusia lanjut sehingga regenerasi menjadi pekerjaan besar yang harus segera dilakukan," katanya.

Untuk memperkuat pelestarian budaya, Kementerian Kebudayaan akan menggelar Indonesia Batik Festival 2026 yang berlangsung mulai 22 Juli hingga Oktober 2026 di 5 kota sekaligus dalam 4 bulan itu yaitu Solo Raya (Solo,Klaten, Sukoharjo) Pekalongan, Jogjakarta dan Magelang. Kegiatan tersebut akan digelar selama empat bulan dan berpuncak pada peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober.

Rully mengatakan festival tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah memperkenalkan batik kepada masyarakat, khususnya generasi muda, melalui berbagai kegiatan budaya dan promosi. Selain sebagai identitas budaya, batik juga dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Industri batik menjadi bagian dari subsektor fesyen yang terus berkembang dan melibatkan banyak kementerian. Mulai dari Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perdagangan, hingga Kementerian Perindustrian.

"Potensi ekonomi batik sangat besar, wisata belanja batik di berbagai daerah seperti Solo masih ramai dikunjungi wisatawan. Dalam kondisi ekonomi saat ini pun batik tetap memiliki pasar dan mampu membuka peluang usaha baru," jelasnya.

Rully menambahkan, agar batik semakin dikenal di tingkat internasional, diperlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk terus mempromosikan sekaligus memperkuat identitas batik dari masing-masing daerah. "Setiap daerah memiliki motif dan ciri khas batik sendiri. Yang perlu dilakukan adalah terus membranding keunikan tersebut agar batik Indonesia semakin dikenal dunia," tuturnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....