Malam Suro bukan Malam Mistis namun saat yang Penuh makna Spiritual dan Sosial

  • 18 Jun 2026 10:58 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Labuhan Ageng Pantai Sembukan adalah tradisi tolak bala dan sedekah laut yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Paranggupito, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kegiatan ini biasanya digelar pada malam 1 Suro menurut penanggalan Jawa untuk memohon keselamatan serta keberkahan produksi pertanian dan hasil laut bagi komunitas lokal serta wilayah Keraton Surakarta Hadiningrat.

Adapun rangkaian prosesi upacara Labuhan Ageng meliputi:

Persiapan Sesaji, disini masyarakat menyiapkan persembahan utama: kepala, kaki, dan ekor sapi/kerbau. Bagian-bagian tertentu hewan ini dipilih karena maknanya: kepala (kebijaksanaan), kaki (pijakan), ekor (penyeimbang).

Tirakatan Malam, tirakat dimagsudkan mengekang hawa nafsu, doa bersama di tepi pantai, dipimpin pemangku adat dan tokoh agama. Dalam doa ini masyarakat meminta kepada Tuhan sang Penguasa untuk keselamatan dan ketentraman warga serta kelancaran dalam melaksanakan hajat hidup.

Kirab Sesaji, arak-arakan dari pusat desa menuju bibir Pantai Sembukan dengan membawa benda yang disiapkan untuk dilarung. Dilakukan dengan tertib oleh pemangku adat, perangkat desa, dan masyarakat.

Pelarungan ke Laut, sesaji utama dilarung (dilepaskan ke laut). Saat momen ini, biasanya ombak menjadi tenang sejenak, fenomena yang dipercaya sebagai "penerimaan" persembahan oleh Sang Penguasa Laut.

Doa Bersama, permohonan keselamatan untuk wilayah Wonogiri, keberkahan hasil bumi dan laut, dan terlindungi dari pagebluk (wabah/bencana).

Dilihat dari pemaknaan, labuhan ageng memiliki dua lapisan makna yakni:

Makna Spiritual, sebagai manifestasi syukur kepada Tuhan dan permohonan keselamatan dari kekuatan alam (laut & gunung). Sekaligus sebagai persahabatan kepada Kanjeng Ratu Kidul sebagai entitas spiritual yang dipercaya menjaga keseimbangan kosmik Jawa.

Makna Sosial, dimaknai untuk memperkuat rasa kebersamaan, gotong-royong, dan identitas lokal desa Paranggupito sebagai komunitas agraris pesisir. Tradisi ini juga menjadi sarana mendidik generasi muda tentang nilai menghormati alam dan leluhur.

Selain Labuhan Ageng tahunan, Pantai Sembukan juga menjadi destinasi wisata religi sepanjang tahun. Pada malam-malam tertentu (terutama malam Jumat), banyak peziarah dari berbagai daerah datang untuk melakukan ritual mengasah ruhani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....