Mensuasanai Awal Suro, Labuhan Ageng Digelar sebagai Tolak Bala

  • 18 Jun 2026 11:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Labuhan Ageng adalah tradisi sedekah laut & tolak bala di Pantai Sembukan, Paranggupito Kabupaten Wonogiri. Tradisi ini sudah ada dan dilaksanakan setiap malam 1 Sura sejak zaman Mangkunegaran IV (±1848).

Merupakan salah satu tradisi sedekah laut paling sakral di pesisir selatan Jawa, dilaksanakan oleh masyarakat Desa Paranggupito, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri. Upacara ini menjadi simbol hubungan spiritual masyarakat Wonogiri dengan Alam Laut Selatan.

Dari sisi bahasa, kata Labuhan berasal dari labuh dari bahasa Jawa yang berarti melarung atau menyerahkan sesuatu ke air. "Ageng" berarti agung atau besar.

Jadi Labuhan Ageng berarti Sedekah Besar untuk Laut, bentuk upacara persembahan untuk tolak bala bagi wilayah Wonogiri dan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Tradisi Labuhan Ageng telah berlangsung secara turun-temurun sejak zaman Mangkunegaran IV sekitar tahun 1848. Berdasar pesan dari Keraton Surakarta, upacara ini bermakna penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul dan penghargaan terhadap elemen alam laut selatan.

Pantai Sembukan dipercaya sebagai lokasi pertemuan antara Ratu Kidul dan Panembahan Senapati, raja pertama Kerajaan Mataram Islam pada waktu berkuasa dulu. Kepercayaan ini juga berkaitan dengan Wisata Kahyangan Dlepih di Kecamatan Tirtomoyo, yang dipercaya sebagai tempat semadi Panembahan Senapati.

Labuhan Ageng digelar setiap malam 1 Sura menurut penanggalan Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram Hijriah. Pemilihan tanggal ini selaras dengan tradisi 1 Suro di seluruh Jawa Tengah, ketika berbagai ritual penyucian dan tolak bala digelar serempak seperti Kirab Keraton Surakarta, Larap Selambu Sragen, Jamasan Pusaka, dan masih banyak yang dilakukan di dearah lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....