Jamasan Kyai Tombak Abirawa Warnai Malam Satu Suro di Batang

  • 16 Jun 2026 05:12 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang – Prosesi jamasan Pusaka Kyai Tombak Abirawa kembali mewarnai peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah atau Malam Satu Suro 1960 Tahun Jawa di Kabupaten Batang. Tradisi tahunan tersebut digelar sebagai upaya melestarikan budaya leluhur sekaligus menjaga kesucian pusaka peninggalan para pendiri daerah.

Ahli waris Pusaka Kyai Tombak Abirawa, Raden Susanto Waluyo, mengatakan jamasan yang dilaksanakan pada Malam Satu Suro memiliki prosesi yang berbeda dibandingkan dengan jamasan rutin pada hari-hari biasa. Ritual tersebut dilakukan secara lebih lengkap dengan berbagai tahapan khusus.

"Malam ini ada 10 tombak dan dua keris pusaka yang akan dijamas. Karena mayoritas pusaka tersebut berusia lebih dari 200 tahun, tentu memerlukan perlakuan khusus, dibandingkan dengan pusaka yang lain," ujarnya saat ditemui di Pendapa Kabupaten Batang, Senin, 15 Juni 2026.

Susanto menjelaskan, pusaka yang telah berusia lebih dari satu abad umumnya terbuat dari material besi dengan karakteristik tertentu sehingga membutuhkan perawatan berbeda. Meski dibersihkan secara berkala, prosesi jamasan lengkap hanya dilakukan pada Malam Satu Suro.

"Kalau sebulan sekali kami bersihkan, tapi tidak sampai dijamas dengan air bunga dan uborampenya. Malam Satu Suro, pusaka-pusaka dijamas secara lengkap," ucapnya.

Ia juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Batang. Pemerintah daerah telah menyediakan ruang penyimpanan khusus bagi Pusaka Kyai Tombak Abirawa.

Sementara itu, Paguyuban Tosanaji Batang turut mendampingi prosesi jamasan sekaligus menggelar pameran pusaka. Ketua Paguyuban Tosanaji Batang, Ibnu Kharis, mengatakan pihaknya memamerkan sekitar 30 bilah keris pusaka dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Beberapa di antaranya ialah Keris Megantoro era Ken Arok, Tilam Upih, Jalak, Singo Barong, hingga Nogo Sosro."Contoh Keris "Brojol", tentu dibuat empu untuk memudahkan segala sesuatu misal membantu menyelesaikan permasalahan, bahkan saat proses melahirkan dan lainnya," katanya.

Menurut Ibnu, sejumlah uborampe disiapkan dalam prosesi jamasan, seperti juwadah pasar, pisang raja, air kelapa, air bunga, kain mori, kuas, minyak pusaka, hingga dupa. Kelengkapan tersebut menjadi bagian penting dalam ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sebelum prosesi jamasan, Pusaka Kyai Tombak Abirawa beserta pusaka pengiring telah dikirab mengelilingi kompleks Kantor Bupati Batang. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Gatotkaca Winisudha oleh Dalang Ki Beta Ardana.

Usai menyaksikan pagelaran wayang, Bupati Batang M Faiz Kurniawan berharap tradisi penjamasan pusaka dapat menjadi pengingat bagi generasi muda untuk terus melestarikan budaya leluhur Kabupaten Batang. “Semoga selama setahun ke depan seluruh warga Batang dilancarkan segala kepentingannya, sedangkan jamasan sebagai tradisi akan terus dilestarikan termasuk dengan mengikutsertakan pejabat dalam segala prosesinya," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Disdikbud Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, menyebut jumlah pusaka yang dijamas tahun ini mencapai 62 bilah. Proses penjamasan telah dilakukan sejak Senin pagi di kompleks Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batang.

"Pusaka yang dijamas 56 tombak, 5 keris dan 1 pedang. Puncaknya malam ini penjamasan Kyai Tombak Abirawa beserta, Payung Tunggul Pangayom, keris dan pusaka pengiring lainnya," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....