Mengenal Prabu Sentanu, Kakek Moyang Pandawa

  • 14 Jun 2026 20:38 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Prabu Sentanu merupakan Raja dari Kerajaan Hastinapura, sebuah kerajaan besar yang menjadi pusat cerita dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa. Prabu Sentanu lahir dalam keluarga kerajaan yang mulia dan terkenal dengan keadilan serta kebijaksanaannya.

Ia adalah putra dari Prabu Pratipa dan Permaisuri Sunanda/Sumanda, Sentanu merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, kedua kakaknya bernama Raden Dewapi dan Raden Bahlika. Meskipun anak terakhir Sentanu berhasil membuktikan bahwa ia layak untuk melanjutkan mahkota ayahnya.

Kakak-kakak Sentanu juga mengakui kelayakan tersebut sehingga tidak ada konflik perebutan tahta yang pelik. Diceritakan bahwa sebenarnya Prabu Sentanu merupakan titisan Prabu Mahabisa yang telah menjadi dewa di Khayangan.

Suatu hari di pertemuan para dewa-dewi, Mahabisa terpesona oleh kecantikan Dewi Gangga karena busana Dewi Gangga tersibak angin. Karena hasratnya ini Mahabisa mendapat kutukan Batara Brahma yaitu diusir dari Khayangan Suralaya dan turun ke Mayapada atau dunia para manusia.

Mahabisa diangkat anak oleh Prabu Pratipa dan tetap ingin menikahi Dewi Gangga, ia pun membujuk rayu bidadari itu. Dewi Gangga akhirnya mau dijadikan istri namun Ia harus memenuhi syarat yaitu berjanji apapun yang Gangga lakukan jangan pernah sekalipun dilarang atau diingatkan.

Mahabisa atau Sentanu menyetujui syarat dan bersedia memenuhi janji tersebut. Prabu Sentanu pun hidup bersama Permaisuri Gangga di Hastinapura.

Waktu berlalu, setiap hamil dan melahirkan Gangga menghanyutkan anaknya ke sungai, anak pertama hingga ketujuh berhasil dihanyutkan. Namun ketika Gangga tengah hamil dan akhirnya melahirkan anak kedelapan, ia hendak menghanyutkannya kembali ke sungai, hal ini menjadikan Prabu Sentanu gusar.

Prabu Sentanu sangat menginginkan keturunan dari pernikahannya dengan Gangga, sehingga akhirnya memutuskan untuk melarang Gangga menghanyutkan anak mereka ke sungai lagi. Ganggapun memberikan anak tersebut kepada Raden Sentanu.

Ia mengatakan bahwa Sentanu telah melanggar janji yang telah mereka sepakati, Dewi Gangga pun bersiap-siap pulang kembali ke Khayangan. Namun Sentanu yang gandrung (cinta) kepada Gangga tidak bisa merelakan begitu saja kepergian istrinya, ia pun memohon kepada Gangga agar tetap tinggal saja di Hastinapura.

Gangga menjelaskan alasan mengapa ia memutuskan menghanyutkan anak mereka karena putra-putra yang ia lahirkan merupakan inkarnasi dari Astabasu atau delapan Wasu. Tindakannya menenggelamkan bayi-bayi tersebut adalah untuk melepaskan jiwa mereka agar mencapai surga, kediaman para Wasu.

Akhir keputusan Dewi Gangga kembali ke Khayangan Suralaya dan meninggalkan putranya di Hastinapura. Anak kedelapan tersebut diberi nama Dewabrata ada juga yang menyebutkan dinamai Jahnawisuta, dan setelah besar dikenal dengan nama Bhisma.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....