Filosofi Tetes: Makna Kedewasaan dalam Tradisi Sewindu dan Supitan

  • 11 Mei 2026 08:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Filosofi Tetes dalam budaya Jawa melambangkan fase keberkahan dan awal kedewasaan seorang anak. Tahap ini dirayakan melalui tradisi wilujengan sebagai bentuk syukur atas tumbuh kembang buah hati.

Bagi anak perempuan, terdapat tradisi wilujengan sewindu yang dilaksanakan saat menginjak usia delapan tahun. Ritual ini menandai pergantian masa kanak-kanak menuju persiapan menjadi remaja yang berbudi luhur.

Keluarga biasanya menyajikan tumpeng sebagai simbol doa keselamatan dan keberkahan hidup bagi sang anak. Doa dipanjatkan agar anak perempuan tersebut memiliki hati yang sejuk layaknya tetesan embun.

Sementara itu, bagi anak laki-laki, fase Tetes ditandai dengan pelaksanaan tradisi wilujengan supitan atau khitanan. Tradisi ini merupakan simbol penyucian diri sekaligus tanda kemandirian bagi seorang pria Jawa.

Supitan bukan sekadar urusan medis, melainkan prosesi sakral untuk membentuk karakter tanggung jawab sejak dini. Anak lelaki dididik untuk berani menghadapi tantangan hidup dengan jiwa yang kuat.

Melalui kedua tradisi ini, orang tua berharap berkah Tuhan selalu menetes dalam kehidupan anak-anak mereka. Nilai-nilai spiritual ditanamkan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Wilujengan sewindu dan supitan menjadi bukti pentingnya pendampingan spiritual dalam setiap fase pertumbuhan manusia. Budaya ini terus dilestarikan demi menjaga identitas dan moralitas generasi penerus bangsa.

Menerapkan filosofi Tetes membantu masyarakat memahami bahwa setiap tahapan usia memiliki makna yang sangat mendalam. Tradisi ini menjadi bekal berharga bagi anak dalam mengarungi masa depan yang penuh harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....