Filosofi Titis: Makna Spiritual dalam Tradisi Wilujengan Kandungan
- 11 Mei 2026 11:25 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Filosofi Titis dalam budaya Jawa juga termanifestasi melalui rangkaian tradisi wilujengan masa kehamilan. Tradisi ini merupakan bentuk doa agar janin tumbuh tepat sesuai harapan orang tua.
Tahap awal dimulai dengan wilujengan sewulan atau syukuran saat janin genap berusia satu bulan. Ritual ini bertujuan memohon keselamatan bagi benih kehidupan yang baru saja bersemayam.
Selanjutnya adalah wilujengan tigang wulan yang dilaksanakan saat usia kandungan memasuki bulan ketiga. Fokus doa pada tahap ini adalah penguatan fisik janin agar berkembang dengan sempurna.
Memasuki bulan keempat, masyarakat Jawa menggelar wilujengan sekawan wulan sebagai momen ditiupkannya ruh. Keluarga memohon agar sang anak dianugerahi sifat-sifat luhur dan nasib yang baik.
Ritual yang paling populer adalah wilujengan pitung wulan atau dikenal dengan sebutan tradisi Tingkeban. Upacara ini menjadi simbol pembersihan diri bagi calon ibu dan persiapan menuju persalinan.
Puncak dari fase Titis adalah wilujengan lair saat bayi lahir setelah 9 candra 10 ari. Angka tersebut merujuk pada masa sembilan bulan sepuluh hari janin berada dalam kandungan.
Seluruh rangkaian wilujengan ini membuktikan kedalaman spiritualitas masyarakat Jawa dalam menghargai proses kehidupan. Setiap tahapannya mengandung harapan agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang Titis.
Penerapan nilai-nilai ini membantu orang tua modern menjaga kesakralan proses awal kehidupan manusia. Tradisi luhur ini terus dijaga sebagai warisan budaya yang penuh dengan pesan moral.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....