Karawitan Gaya Banyumas, Cerminan Konsep Hidup Masyarakat
- 07 Mei 2026 18:10 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Karawitan gagrag Banyumas atau karawitan Banyumasan merupakan salah satu gagrag dalam karawitan Jawa yang berkembang di luar lingkungan kraton Surakarta dan Yogyakarta. Dalam sajian-sajiannya tercermin adanya local genius yang didasarkan pada nilai-nilai lokal yang berada di luar tembok kraton.
Menurut Rene T.A. Lysloff (1992:88) penggunaan akhiran "an" di belakang nama tempat berkaitan dengan pandangan cenderung dimaksudkan untuk mengecilkan tradisi dan berhubungan dengan persoalan "gaya". Misalnya: karawitan Jawa Timuran, gagrag Banyumasan, gagrag Semarangan, dan-lain-lain.
Karawitan Banyumasan ditandai ada perbedaan yang tajam dibandingkan dengan karawitan kraton (Surakarta-Yogyakarta). Baik pada bentuk gendhing, jenis instrumen, repertoar gendhing maupun cara permainan instrumen.
Semua itu terjadi karena adanya perbedaan sumber nilai yang diacu. Karawitan kraton bersumber dari konsep nilai adiluhung, sedangkan karawitan Banyumasan berangkat dari nilai kerakyatan dengan konsep kesederhanaan dan egaliter.
Anderson Sutton berpendapat bahwa orang-orang lokal di Banyumas melihat diri mereka lebih sangat terbuka (blag-blagan), egalitarian, lebih santai dibanding orang Solo maupun Yogya (Sutton, 1991:70). Ini membuktikan di dalam diri orang Banyumas tidak tertanam sifat formal sebagaimana dijumpai di lingkungan kraton.
Hal ini menjadi sifat dasar yang selanjutnya tercermin pada ekspresi dan spirit sajian karawitan yang berkembang di wilayah itu.
Sesuai basisnya yang berada di lingkungan rakyat kebanyakan, karawitan Banyumasan sering digolongkan ke dalam jenis karawitan rakyat. Dr. Rahayu Supanggah menyebutkan bahwa karawitan rakyat ditandai dengan penggunaan ricikan (instrumen) yang relatif sederhana.
Karawitan jenis ini memiliki sifat yang spontanitas dan akrab dengan lingkungan, hampir meniadakan jarak fisik maupun psikologis antara seniman dengan penontonnya (Rahayu Supanggah, 1991).
Demikianlah yang terjadi pada karawitan Banyumasan. Sajian gendhing-gendhing di dalamnya mengesankan hadirnya konsep kesederhanaan dan egalitarian yang mencerminkan konsep hidup masyarakat pendukungnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....