Tari Bun Ya Ho Desa Megawon Digelar Dalam Sedekah Bumi
- 04 Mei 2026 17:09 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus - Tradisi sedekah bumi (Apitan) di Desa Megawon kecamatan Jati, Kudus sudah berlangsung sejak cukup lama. Bentuk rasa syukur atas karunia Allah SWT yang dikemas dengan kearifan lokal yang ditambah dengan tari asli Desa Megawon.
Yakni tari Bun Ya Ho yang dari cerita masa lalu, diciptakan oleh salah satu ulama asal Kebumen yang kemudian menetap di desa tersebut. Tari ini diciptakan sebagai salah satu kesenian untuk menyebarkan agama Islam di Desa Megawon yang ketika itu warganya belum tertata dengan baik akhlak dan agamanya.
Tari Bun Ya Ho merupakan salah satu bentuk kesenian yang ditampilkan waktu itu saat terdapat perhelatan pernikahan, khitanan dan acara – acara lainnya. Menurut Kepala Desa Megawon Nurasag, tari Bun Ya Ho diciptakan oleh salah satu ulama ketika itu yang berasal dari Kebumen yakni Kyai Abdul Jalil.
“Tarian ini diartikan sebagai ajakan untuk berbuat kebaikan, mencerminkan nilai-nilai dakwah Islam yang disampaikan melalui seni. Dan tarian itu kita hidupkan lagi sejak Apitan tahun 2013 silam,” ujar Nurasaq saat acara Apitan, Minggu malam, 3 Mei 2026.
Sementara itu, Plh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Teguh Riyanto mengatakan, tradisi Apitan atau sedekah bumi merupakan sebuah kebudayaan. Di mana dalam Perda No. 8 Tahun 2021 semua diminta berperan aktif dalam kemajuan kebudayaan.
“Dengan adanya Apitan ini diharapkan ada kebersamaan dan kekompakan antara warga dan pemdes. Sehingga terjalin keharmonisan antara warga dan pemerintahan desa, serta saling menjaga toleransi untuk menuju desa yang lebih Sejahtera,” tandasnya.
Di Kudus sendiri sedikit sekali sebuah desa memiliki tarian asli desa setempat. Maka dari itu tari Bun Ya Ho diuri – uri oleh pemdes setempat untuk dikenalkan kepada seluruh generasi muda. (RK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....