Biografi Nyi Ageng Serang, Lahir di Purwodadi hingga Wafat di Kulonprogo
- 25 Apr 2026 22:10 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID - Semarang: Bersumber dari buku “Nyi Ageng Serang” karya Dra. Putu Lasminah SS (2007). Tercatat tentang biografi Nyi Ageng Serang seorang Pahlawan Nasional wanita.
Ia Lahir Serang Purwodadi, pada tahun 1752, Wafat di Yogyakarta, 1838. Makam di wilayah Beku, Kulonprogo. Terlahir dengan nama asli raden ajeng (RA) Kustiyah wulaningsih Retno Edhi.
Ia adalah putri dari pangeran natapraja, penguasa daerah serang, sebuah wilayah terpencil dalam kerajaan Mataram, Jawa tengah. Pangeran natapraja adalah panglima perang sultan Hamengkeu Buwono 1 yang bergelar panembahan serang.
Kustiyah sejak kecil sudah ikut ayahnya berperang melawan belanda. Setelah ayahandanya wafat karena sakit, Kustiyah menggantikan kedudukan sang ayah sebagai junjungan di serang dan bergelar Nyi Ageng Serang.
Selama memimpin, Nyi ageng dikenal dekat dengan rakyatnya. Ia selalu membantu mengangkat rakyatnya dari kesengsaraan dengan membagi – bagikan pangan serta kebutuhannya.
Nyi ageng secara diam-diam juga sering melakukan serangan kecil-kecilan terhadap belanda dengan menggunakan taktik perang gerilnya. Ketika perang diponegoro meletus, Nyi ageng bersama menantunya Raden mas Pak-Pak dan pasukan nataprajan bertempur melawan belanda.
Nyi ageng bertempur dan memimpin pasukan dari atas tandu karena usianya yang sudah 73 tahun. Setengah 3 tahun ikut bertempur membantu Pangeran diponegoro, nyi ageng akhirnya mengundurkan diri.
Perjuangan kemudian ditruskan oleh menantunya R.M. Pak-Pak. Hingga Nyi Ageng wafat dalam usia 86 tahun, daerah serang tetap sebagai daerah merdeka.
Bahkan pada tahun 1833, pemerintah Belanda memberikan penghargaan kepadanya dan memberikan tunjangan hari tua sebanyak 100 Gulden tiap bulan. Nyi Ageng adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga.
Nyi Ageng Serang dikukuhkan sebagai Pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI No.084/TK/1974.
Menjelang akhir hayatnya, beliau memilih tinggal di desa kecil dan terpencil di wilayah Kulon Progo. Masa tuanya digunakan untuk mengajarkan ilmu-ilmu dasar agama Islam pada masyarakat sekitar.
Termasuk mengajari anak-anak kecil untuk membaca Al Qur’an. Patung beliau lengkap dengan tongkat dan kuda yang menemaninya berjuang, kini diabadikan menjadi monument di simpang jalan Kulon Progo.
Nilai-nilai keteladanannya sebagai pahlawan nasional adalah nilai-nilai yang penting dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti menjaga persatuan dan kesatuan, rela berkorban, cinta tanah air, saling pengertian, tenggang rasa dan saling menghargai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....