Ajaran Luhur dalam Sastra Klasik Serat Tripama untuk Generasi Muda
- 26 Apr 2026 19:48 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID - Semarang: Serat Tripama adalah salah satu karya KGPAA Mangkunagara IV yang cukup singkat. Hanya berisi 7 bait tembang Dhandhanggula.
Kata tripama sendiri berasal dari gabungan kata tri ‘tiga’ dan umpama ‘perumpamaan’, merujuk pada tiga tokoh dalam dunia pewayangan. Yaitu Patih Suwanda dari Kerajaan Maespati, Kumbakarna dari negeri Alengka dan Adipati Basukarna dari Awangga.
Ketiganya digambarkan mempunyai loyalitas dan dedikasi yang tinggi pada negaranya. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan keluarga.
Sikap ketiga tokoh itu juga menggambarkan berbagai macam nilai yang ada di dalam Etika Jawa . Sehingga patut menjadi suri teladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Selain berbagai kelebihan yang dimilikinya, Mangkunagara IV menyadari bahwa ketiga tokoh tersebut memiliki kelemahan masing-masing yang menurut pandangan umum masyarakat Jawa harus dihindari.
Sumantri yang berani menantang/melawan rajanya ketika hendak mempersembahkan putri boyongan. Sedangkan Kumbakarna yang berwujud raksasa yang tentunya wataknya diwarnai oleh sifat aluamah, dan supiah yang merupakan sifat kurang baik bagi seseorang.
Karna Basusena atau Adipati Basukarna yang berani menentang perintah ibunya. Ia juga sampai hati menghadapi adiknya di medan peperangan adalah satu sikap angkuh dan sombong di hadapan masyarakat Jawa.
Namun seperti diketahui, bahwa sifat baik dan buruk itu merupakan sesuatu yang melekat pada diri setiap orang dalam kehidupannya. Apalagi kelemahan-kelemahan ketiga tokoh tadi telah ditebus dengan darma baktinya.
Yaitu nuhoni trah utama pada diri Sumantri, nuhoni sifat kasatriyane hing tekad labuh negari pada Kumbakarna, dan ciptanira harsa males sih pada Karna Basusena. Sehingga ketiganya pantas dijadikan sebagai suri teladan atas sikap keprajuritan yang dimilikinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....