Karon Tedhak Siten, Simbol Suci Sang Bayi
- 21 Apr 2026 13:15 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Di tengah khidmatnya prosesi tedhak siten, sebuah wadah tanah liat bernama karon menjadi saksi awal perjalanan hidup seorang anak. Air yang mengalir di dalamnya bukan sekadar basuhan, melainkan simbol penyucian dan doa penuh harap dari orang tua.
Karon merupakan bejana tradisional yang terbuat dari tanah liat dan digunakan khusus untuk memandikan bayi dalam rangkaian adat Jawa. Kehadirannya mencerminkan kesederhanaan sekaligus kedekatan manusia dengan alam sebagai sumber kehidupan.
Dalam prosesi ini, bayi dimandikan menggunakan air gege yang telah dicampur bunga setaman yang harum dan menenangkan. Setiap siraman air mengandung makna doa agar sang anak tumbuh bersih lahir batin serta dijauhkan dari hal-hal buruk.
Filosofi karon tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai wadah air, tetapi juga sebagai simbol kerendahan hati dan kesucian. Tanah liat yang menjadi bahan dasarnya mengingatkan bahwa manusia berasal dari bumi dan akan kembali kepada-Nya.
Tujuan penggunaan karon dalam tedhak siten adalah menghadirkan unsur alami sebagai media penyucian sekaligus penguatan nilai spiritual. Prosesi ini menjadi bentuk ikhtiar keluarga dalam menyertai tumbuh kembang anak dengan doa dan harapan terbaik.
Di tengah kehidupan modern, makna karon tetap relevan sebagai pengingat pentingnya menjaga kesederhanaan dan keseimbangan hidup. Tradisi ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan akar budaya yang sarat nilai luhur.
Karon dalam tedhak siten pun menjadi simbol bahwa setiap awal kehidupan layak disambut dengan kesucian dan cinta. Dari wadah sederhana, tersimpan harapan besar untuk masa depan generasi penerus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....