Sengkeran Tedhak Siten, Simbol Cinta dan Harapan
- 20 Apr 2026 16:45 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Di sebuah halaman rumah sederhana, seorang bayi kecil melangkah perlahan di atas tanah untuk pertama kalinya dalam prosesi tedhak siten. Di tengah suasana khidmat dan penuh haru, tersedia sebuah kurungan atau sengkeran yang menjadi bagian penting dari rangkaian ritual tersebut.
Dalam tradisi Jawa, sengkeran bukan sekadar kurungan biasa, melainkan simbol perlindungan dan pembatasan yang sarat makna. Bayi dimasukkan ke dalamnya sebagai gambaran bahwa setiap manusia akan menghadapi pilihan hidup dalam batasan nilai dan norma.
Di dalam sengkeran biasanya diletakkan berbagai benda seperti buku, alat tulis, uang, perhiasan, hingga mainan. Benda-benda ini menjadi simbol pilihan jalan hidup yang kelak akan ditempuh sang anak, sekaligus doa orang tua terhadap masa depannya.
Filosofi sengkeran mengajarkan bahwa kehidupan tidak sepenuhnya bebas tanpa arah, melainkan perlu tuntunan agar tetap berada dalam jalur yang baik. Kurungan tersebut juga menjadi lambang kasih sayang orang tua yang ingin melindungi anaknya dari pengaruh buruk dunia luar.
Tujuan dari prosesi ini adalah memberikan harapan dan doa terbaik agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bijaksana, dan berakhlak mulia. Selain itu, sengkeran juga mencerminkan kesiapan keluarga dalam mendampingi anak menghadapi kehidupan.
Dalam konteks masa kini, makna sengkeran tetap relevan sebagai pengingat pentingnya batasan dan nilai dalam membesarkan anak di tengah arus modernisasi. Orang tua dituntut tidak hanya memberi kebebasan, tetapi juga arah dan perlindungan yang bijak.
Sengkeran dalam tedhak siten pun menjadi refleksi bahwa tradisi tidak sekadar warisan, tetapi juga sumber nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan modern. Melalui simbol sederhana, tersimpan pesan mendalam tentang cinta, harapan, dan tanggung jawab.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....