Antrean Tukar Uang Baru saat Lebaran, antara Tradisi dan FOMO

  • 02 Apr 2026 05:21 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Menjelang Lebaran, antrean penukaran uang baru menjadi pemandangan yang hampir selalu hadir di berbagai kota. Banyak orang rela datang lebih awal dan menunggu lama demi mendapatkan uang pecahan kecil untuk kebutuhan hari raya.

Fenomena ini terus berulang setiap tahun, meskipun layanan penukaran uang sebenarnya tersedia di banyak tempat. Namun ketika antrean mulai terlihat panjang, minat masyarakat untuk ikut menukar uang justru semakin meningkat.

Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep fear of missing out (FOMO), yakni perasaan khawatir tertinggal dari orang lain dalam suatu aktivitas. Przybylski et al. (2013) dalam jurnal Computers in Human Behavior menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan dorongan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain, sehingga memicu perilaku ikut-ikutan.

Situasi ini semakin kuat dengan adanya media sosial. Foto antrean panjang atau informasi mengenai keterbatasan uang baru dapat memicu kekhawatiran masyarakat akan kehabisan kesempatan.

Di sisi lain, tradisi penukaran uang menjelang Lebaran memang memiliki makna tersendiri. Uang pecahan kecil biasanya disiapkan untuk dibagikan kepada anak-anak atau kerabat sebagai bagian dari budaya berbagi saat silaturahmi.

Ketika tradisi tersebut bertemu dengan arus informasi yang cepat, permintaan penukaran uang meningkat secara bersamaan. Hal ini sejalan dengan penelitian Banerjee (1992) dalam The Quarterly Journal of Economics tentang herd behavior, yang menunjukkan bahwa individu cenderung mengikuti keputusan banyak orang meskipun informasi yang dimiliki terbatas.

Bank Indonesia sendiri setiap tahun telah menyiapkan uang layak edar dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Upaya ini dilakukan agar proses penukaran dapat berjalan lebih lancar menjelang hari raya.

Namun, tingginya minat dalam waktu yang bersamaan membuat antrean tetap tidak terhindarkan. Kondisi ini kemudian memicu lebih banyak orang untuk ikut antre karena khawatir kehabisan.

Pada akhirnya, fenomena antrean penukaran uang Lebaran tidak hanya soal kebutuhan praktis. Ada faktor psikologis dan sosial yang turut berperan, di mana keinginan untuk tidak tertinggal dari orang lain ikut memengaruhi keputusan masyarakat.

Dengan demikian, antrean panjang tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa perilaku manusia sering kali dipengaruhi bukan hanya oleh kebutuhan, tetapi juga oleh dorongan untuk menjadi bagian dari kebiasaan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....