Rotary–RRI Lestarikan Kethoprak, Damarwulan Jumeneng Ratu, "Pecah"
- 29 Mar 2026 23:56 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Kethoprak Damarwulan jumeneng Ratu RRI dan Rotary pelestarian budaya
RRI.CO.ID, Semarang - Gemerlap lampu panggung mulai redup ketika layar menyala terbuka di Auditorium RRI Semarang, Minggu malam, 29 Maret 2026. Suara gamelan mengalun pelan, membawa penonton memasuki lorong waktu ke masa kejayaan kerajaan Jawa.
Pagelaran kethoprak “Damarwulan Jumeneng Ratu persembahan Rotary Club Semarang Kunthi dan RRI, bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah perjalanan rasa yang menghidupkan kembali warisan budaya yang kian jarang disentuh generasi muda.
Kisah Damarwulan tokoh legendaris yang dikenal karena keberanian dan kesetiaannya ditampilkan dengan balutan dialog khas kethoprak yang lugas, jenaka sarat makna. Para pemain yang juga para rotarian ini tampil total, mengenakan busana tradisional lengkap dengan riasan yang memikat.

Tawa penonton pecah saat adegan humor muncul, lalu hening ketika konflik memuncak, menciptakan dinamika yang membuat pertunjukan terasa dekat dan hangat. memberi warna tersendiri dalam pagelaran ini.
Tidak hanya sebagai hiburan, acara ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi dan berbagai profesi anggota Rotari Club Semarang yang hadir sebagai pemain dan penonton, juga Kepala RRI Semarang Atik Hindari sebagai salah satu pemain yang tampil dalam kethoprak Damarwulan Jumeneng Ratu.

Larut dalam alur cerita, seolah diingatkan bahwa kethoprak adalah milik bersama yang perlu dijaga. Di tengah gempuran budaya populer dan hiburan digital, kethoprak tampil dengan kesederhanaannya yang justru mengena.
Dialog yang disampaikan dalam bahasa Jawa, iringan gamelan yang ritmis. Serta alur cerita yang penuh nilai moral menjadi kekuatan yang tak lekang oleh waktu.
Inilah bentuk kearifan lokal yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan tentang kepemimpinan, kesetiaan, dan keberanian. Pagelaran ini juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus kaku.

Dengan sentuhan kreatif dan kemasan yang menarik, kethoprak mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Dukungan berbagai pihak, termasuk komunitas dan organisasi seperti Rotary Club, menjadi energi penting agar kesenian tradisional tetap hidup dan relevan.
Tepuk tangan panjang menutup pertunjukan. Namun, gaungnya seolah masih tertinggal di benak para penonton. “Damarwulan Jumeneng Ratu” bukan hanya cerita lama yang dipentaskan ulang, melainkan pengingat bahwa identitas budaya adalah akar yang harus terus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....