Tradisi Sewu Kupat Hadirkan 18 Gunungan Dari 18 Desa
- 28 Mar 2026 14:12 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kudus - Tradisi kirab Parade Sewu Kupat kembali digelar meriah di Taman Ria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu, 28 Maret 2026. Kegiatan tahunan yang menjadi bagian dari tradisi kupatan ini diikuti oleh berbagai desa di kawasan lereng Muria, dengan antusiasme masyarakat yang terlihat meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Sedikitnya 18 gunungan kupat yang diarak dalam kirab itu merupakan perwakilan dari desa-desa di wilayah Kecamatan Dawe. Seperti halnya Desa Colo, Japan, Cranggang, Dukuhwaringin, Tergo, Soco, Ternadi, Margorejo, Kandangmas, Kuwukan, Piji, Lau, Glagah Kulon, Rejosari, Puyoh, Samirejo, hingga Cendono.
Ketua Panitia Kirab Sewu Kupat, Suwanto mengatakan, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarat nilai budaya dan kebersamaan. Tradisi ini mengajarkan masyarakat untuk selalu bersyukur, menjaga kekompakan, serta memperkuat semangat gotong royong.
“Alhamdulillah tahun ini lebih meriah. Semua elemen masyarakat ikut terlibat, mulai dari warga, organisasi masyarakat hingga berbagai komunitas di Desa Colo,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski tahun ini tidak ada lomba gunungan seperti sebelumnya, hal itu tidak mengurangi semarak acara. Justru partisipasi masyarakat dinilai semakin luas dan menyentuh berbagai kalangan.
Suwanto menambahkan, seluruh peserta kirab berasal dari wilayah Kecamatan Dawe dan masyarakat Kudus pada umumnya. Setiap desa mengirimkan perwakilan gunungan kupat yang kemudian diarak bersama sebagai simbol kebersamaan.
Disisi lain, terkait wacana pemecahan rekor MURI, pihak panitia mengaku masih mempertimbangkannya. Hal ini karena jumlah kupat dalam kegiatan serupa di tempat lain sudah mencapai angka yang sangat besar.
“Kami sudah koordinasi dengan pihak MURI, tapi untuk saat ini masih kami kaji lagi konsep yang tepat jika ingin memecahkan rekor,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris menyebut bahwa tradisi Sewu Kupat merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Kudus yang terus dilestarikan setiap tahun.
Menurutnya, tradisi kupatan digelar tujuh hari setelah Hari Raya Idulfitri dan menjadi penutup rangkaian perayaan Lebaran. Selain sebagai bentuk syukur, tradisi ini juga memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat.
“Biasanya masyarakat Kudus setelah Lebaran menjalankan puasa Syawal selama enam hari, kemudian dilanjutkan dengan kupatan. Ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus saling memaafkan,” terangnya.
Ia juga menilai kegiatan Sewu Kupat di Colo memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya dan religi. Dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pengelola kawasan wisata dan Yayasan Makam Sunan Muria, kegiatan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan.
“Ini bukan hanya tradisi, tapi juga potensi wisata yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Antusiasme masyarakat pun terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Ribuan warga memadati lokasi kirab untuk menyaksikan arak-arakan gunungan kupat, bahkan banyak yang turut berebut kupat sebagai simbol berkah. (RK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....