Puasa Mutih, Pati Geni dan Ngebleng, Ajaran Hidup di Jawa untuk Mengatur Hawa Nasfu

  • 22 Feb 2026 10:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Sejarah mencatat bahwa puasa ada sejak era Jawa Kuno yang termasuk bagian dari ajaran hidup. Praktiknya tumbuh subur setidaknya sejak masa Raja Airlangga.

Bentuk lakunya beragam. Di era Jawa Kuno dikenal taparacut dan ugratapa sebagai upaya untuk melepaskan diri dari segala dosa di dunia.

Menurut Ir. Agus Warianto, SIP, MM, dalam kultur Jawa modern laku puasa berkembang menurut cara dan tujuannya.

Puasa mutih, tidak mengonsumsi apa pun selain yang berwarna putih.

Puasa ngebleng, tidak makan-minum selama 24 jam penuh selama tiga hari dengan harapan bisa menguatkan batin para pelakunya.

Puasa pati geni yang tidak boleh melihat dan terkena cahaya. Pelakunya tidak boleh keluar dari kamar yang tertutup dari cahaya, bahkan sekadar untuk buang air, selama waktu tertentu.

Ketua Umum Komite Seni Budaya Jateng itu menambahkan bahwa tak mengherankan jika Islam dan segala syariatnya tak sulit diterima masyarakat Jawa saat disebarkan para wali. Itu karena olah ibadat dalam Islam, seperti berpuasa, sudah sangat melekat dan menjadi hal yang fundamental dalam kehidupan orang Jawa saat itu.

Orang Jawa mengerti betul perihal hakikat puasa. Kedatangan Islam juga tidak memberangus tradisi lama, melainkan memodifikasinya untuk mengembangkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Pada akhirnya, puasa memang sebuah pesan dari Tuhan agar manusia tidak melulu mengurusi duniawi yang kerap membuat lupa kepada asal, tujuan dan akhir hidup manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....