Sekilas Sejarah Puasa di Jawa sebelum Ajaran Islam Masuk
- 22 Feb 2026 08:26 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Menurut beberapa literasi, di tanah Jawa, laku puasa sudah dikenal jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-14. Istilah puasa dalam bahasa Indonesia pun diadopsi dari Jawa, pasa (berpuasa, tapa, penghalang).
Genealoginya berasal dari bahasa Jawa Kuno, pāśa (jerat, ikatan, rantai, belenggu) dan upawāsa. Yang bermakna sebagai tindakan spiritual yang terdiri dari pantang dari semua kepuasan sensual, duniawiah dan pantang makanan secara umum.
Baik kata pāśa (upawāsa) berakar dari bahasa Sanskerta: upavāsa (tindakan keagamaan yang terdiri dari berbagai pantangan. Pantangan berupa makan-minum, kepuasan sensual, dan sebagainya).
Orang Jawa juga mengenal kata siyam—diserap dari kata bahasa Arab shaum atau shiyam—yang bermakna sama dengan pasa. Berdasarkan makna harfiah tersebut, puasa diyakini sebagai cara pengendalian dari segala nafsu, bentuk penyucian, sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Sang Hakikat Tertinggi.
Bentuknya bisa dengan tidak makan-minum, tak melakukan hubungan seksual, atau dengan melakukan tapa. Puasa dilakukan untuk mencapai tujuan yang sifatnya sangat suci.
Puasa beserta definisi dan ajaran di dalamnya merupakan konsep yang universal dalam peradaban umat manusia. Universalitas itu tergambar dari tujuannya: Illahiah.
Dalam kegiatan kepenyairan era Jawa Kuno (kawi), misalnya, para kawi berpuasa saat menggubah karya sastra kakawin. Mereka percaya kakawin bisa menjadi salah satu bentuk tirakat untuk “menyatu” dengan Hyang Agung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....