Pengaruh Kemarau Panjang, Petani Garam di Pati Kesulitan Bahan Baku

  • 20 Sep 2026 12:06 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Produksi garam di Desa Ketitangwetan, Kabupaten Pati terhenti hampir dua minggu akibat surutnya permukaan air laut selama kemarau panjang.
  • Lebih dari 300 hektare lahan tambak garam di wilayah tersebut tidak dapat berproduksi secara maksimal, dipaksa mengandalkan pompa air seadanya.
  • Meski harga garam saat ini tergolong baik di kisaran Rp780-Rp800 per kilogram, petani mengalami kerugian karena produksi terhambat akibat ketiadaan air laut.
Video

RRI.CO.ID, Pati - Kemarau panjang di Kabupaten Pati turut memukul produksi garam rakyat di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan. Surutnya permukaan air laut membuat petani kesulitan mengisi tambak garam mereka.

Kepala Desa Ketitangwetan, Ali Munthoha, mengungkapkan bahwa produksi garam telah berhenti hampir dua minggu akibat air pasang laut yang sangat kecil. Ia menyebut harga garam saat ini justru berada pada kisaran cukup baik, yakni Rp780 hingga Rp800 per kilogram.

"Petani tambah sangat mengeluh karena air pasang lautnya sangat kecil, sehingga produksinya hampir dua minggu ini berhenti. Sementara tahun ini harga garam berkisar Rp780 sampai Rp800an," kata Ali Munthoha.

Petani garam lokal, Pramono, menambahkan bahwa kondisi kekurangan air kali ini jauh lebih parah dibanding musim kemarau tahun sebelumnya. Ia menyebut harga garam saat ini relatif stabil, tetapi produksi justru terhambat akibat ketiadaan air laut.

"Ini air sangat sulit sekali, parah dibanding musim kemarau yang lalu. Tahun lalu hujannya banyak, sekarang harganya stabil tapi airnya nggak ada," kata Pramono.

Lebih dari 300 hektare lahan tambak garam di wilayah tersebut tercatat tidak dapat berproduksi secara maksimal. Petani terpaksa mengandalkan pompa air seadanya sembari menunggu air laut kembali pasang secara alami.(agp)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....