Panembahan Senopati, Pemersatu WIlayah Pajang dan Mataram Islam
- 07 Agt 2024 06:08 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Mentaok adalah sebuah wilayah hutan luas yang dijanjikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pamanahan setelah berhasil membunuh Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya ingin membatalkan pemberian tanah perdikan tersebut, tetapi Sunan Kalijaga hadir untuk mencegahnya.
Terlebih lagi, Ki Ageng Pamanahan juga bersumpah akan selalu setia terhadap kedaulatan Sultan Hadiwijaya di Pajang. Pada 1556, Ki Ageng Pamanahan resmi diberikan hutan Mentaok, yang kemudian dijadikan pemukiman hingga berkembang pesat.
Setelah memimpinnya selama 38 tahun, Ki Ageng Pamanahan meninggal pada 1575 M dan dimakamkan di Pasarean Mataram. Kepemimpinan Mataram kemudian diteruskan oleh Danang Sutawijaya, anak Ki Ageng Pamanahan yang membantu membunuh Arya Penangsang.
Setelah Ki Ageng Pamanahan wafat, Sutawijaya melepaskan diri dari kerajaan Pajang dan mendirikan Kerajaan Mataram Islam pada 1582 M. Sutawijaya yang berhasil memerdekakan Kerajaan Mataram Islam kemudian mengangkat dirinya menjadi sultan dengan gelar Panembahan Senopati.
Panembahan Senopati memiliki gelar lengkap Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama. Gelar Alaga Sayidin Panatagama menunjukan bahwa sang raja berkuasa atas pemerintahan dan keagamaan.
Sedangkan gelar Senopati merupakan sebutan untuk panglima perang. Panembahan Senoati memerintah sebagai raja pertama Kerajaan Mataram Islam dari tahun 1587 hingga tahun 1601 M.
Pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, Kerajaan Mataram Islam beribukota di Kotagede. Kerajaan Mataram Islam berhasil menguasai daerah Kerajaan Pajang, bahkan menyatukan wilayah-wilayah yang melepaskan diri dari kerajaan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....