Tradisi Tingkeban atau Mitoni

  • 11 Jul 2024 08:41 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Saat usia kandungan wanita hamil memasuki tujuh bulan, kelengkapan organ tubuh dan jenis kelamin janin sudah diketahui. Dalam tradisi masyarakat Jawa, dlakukanlah upacara adat yang disebut tingkeban atau mitoni.

Mitoni merupakan perwujudan rasa syukur dan doa kepada Sang Pencipta, Di samping itu juga sebagai cara mendeteksi apakah jabang bayi berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.

Mitoni, berasal dari kata pitu yang artinya tujuh. Upacara ini dilaksanakan pada usia tujuh bulan kehamilan anak pertama.

Tidak ada larangan bagi wanita yang hamil kedua, ketiga dan seterusnya untuk melaksanakan upacara ini. Karena semua yang dilakukan agar diberikan kesehatan, kelancaran saat persalinan dan mendapatkan buah hati yang sempurna.

Pelaksanaan tingkeban diawali pengajian atau doa bersama, dilanjutkan sungkeman calon bapak dan calon ibu kepada kedua orang tua. Kemudian siraman, procotan, brojolan, kudangan, luwaran, pantes-pantes. diakhiri dengan jualan rujak dan dawet oleh calon ibu dan calon bapak.

Rujak yang dibuat oleh calon ibu dibantu calon bapak bisa menjadi pertanda jenis kelamin dari bayi yang dikandung. Bila rujak berasa manis dan sedap, calon jabang bayi berjenis kelamin perempuan . sebaliknya bila berasa pedas ataupun hambar jabang bayi yang dikandung berjenis kelamin laki-laki.

Ilmu titen inilah bagian dari kearifan lokal yang terjaga sampai sekarang dan menjadi tradisi yang terus dilestarikan.



Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....