Kebo Bule Kyai Slamet, Dipercayai Pembawa Berkah
- 04 Jul 2024 21:25 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Kirab malam Satu Suro merupakan tradisi turun-temurun di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang telah berusia ratusan tahun. Sejarah kirab malam Satu Suro berasal dari rutinitas Raja Pakubuwono X yang memerintah dari tahun 1893 hingga 1939.
Setiap Selasa dan Jumat Kliwon, sang Raja rutin berkeliling tembok Baluwarti berdasarkan penanggalan Jawa. Rutinitas Raja Surakarta tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah tradisi yang terus dilestarikan oleh kerabat keraton hingga saat ini.
Makna dari kirab ini adalah masyarakat meminta keselamatan dan sarana introspeksi agar menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Kirab malam Satu Suro di Keraton Kasunanan Surakarta tidak dapat dipisahkan dari kebo bule atau kerbau bule yang menjadi tokoh utama dalam ritual ini.
Kebo bule yang dimaksud bernama Kyai Slamet. Nama tersebut diambil dari salah satu pusaka berupa tombak milik Keraton Solo yang sering dibawa oleh Pakubuwono X saat berkeliling tembok Baluwarti setiap Selasa dan Jumat kliwon.
Kebo bule yang sakral itu diberikan sebagai hadiah istimewa oleh Bupati Ponorogo, yakni Kyai Hasan Besari Tegalsari, kepada Pakubuwono II bersama dengan pusaka tombak yang tak kalah sakralnya, yaitu Kyai Slamet. Kehadiran kebo bule ini dipercaya membawa anugerah dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, sehingga selalu dinantikan dengan penuh harap oleh masyarakat.
Rute kirab umumnya dimulai dari Keraton Solo, menuju Jalan Pakoe Boewono – Bundaran Gladag, lalu Jalan Jenderal Sudirman. Selanjutnya, kirab memutar di sekitar Benteng Vastenburg ke arah timur melalui Jalan Mayor Kusmanto, kemudian berbelok ke arah selatan melintasi Jalan Kapten Mulyadi, dan melanjutkan perjalanan ke arah barat memasuki Jalan Veteran.
Kirab berlanjut ke arah utara melintasi Jalan Yos Sudarso, kemudian berbelok ke arah timur melalui Jalan Slamet Riyadi, dan di Bundaran Gladag berbelok kanan (ke arah selatan) untuk kembali masuk ke dalam keraton. Menariknya, banyak warga yang menantikan kehadiran kebo bule.
Bahkan, sebagian warga berusaha untuk menyentuh, mengambil air jamasan, dan bahkan mengambil kotoran kebo bule yang jatuh selama kirab berlangsung Kebo bule beserta pawangnya berada di barisan paling depan., diikuti barisan abdi dalem, putra-putri raja, dan kerabat Keraton Solo yang membawa sepuluh pusaka keraton.
Selama prosesi kirab berlangsung, peserta kirab dilarang berbicara satu sama lain. Ritual ini dikenal sebagai tapa bisu. Hal ini memiliki makna sebagai perenungan diri terhadap apa yang telah dilakukan selama setahun yang telah berlalu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....