Mitos dan Fakta Kembar Mayang Pengantin Jawa
- 27 Jun 2024 06:50 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Kembar mayang awalnya dikenal dengan gagar mayang. Namun, khawatir pengertian gagar identik dengan gugur yang artinya mati, maka kemudian berkembang menjadi istilah kembar mayang.
Padahal, pengertian gagar mayang itu seseorang yang terlepas dari satu keadaan (status). Yaitu gugur status kegadisannya atau gugur status jejakanya karena keduanya sudah diikat dalam satu perkawinan dan sudah meningkat kedewasaannya.
Kembar mayang adalah rangkaian bunga hiasan di pernikahan adat Jawa. Merupakan hasil representasi dari paham Hindu yang menampilkan Pohon Kalpataru sebagai simbol pohon kehidupan, sebagaimana terukir dalam relief Candi Prambanan.
Bentuk tertua kembar mayang di lingkungan masyarakat Jawa materialnya terdiri dari Janur (daun kelapa muda) yang berbentuk untiran sepasang, kembang temu. Sepasang, pecut-pecutan sepasang, kupat luar sepasang, dan walang–walangan sepasang.
Bunga Potro Menggolo. Dedaunan seperti beringin, alang-alang, andong, dan daun puring. Namun, dalam perkembangannya, kembar mayang kini didominasi oleh hiasan janur yang dirangkai lebih artsitik tanpa dedaunan.
Kembar mayang masih diletakkan di dalam sebuah tempat yang namanya paidon (tempolong) dari kuningan. Dalam pelaksanaannya, kembar mayang dibuat pada malam midodareni, yaitu malam di mana esok paginya pengantin akan melaksanakan ijab atau panggih.
Jika kembar mayang sudah jadi saat tengah malam, akan diadakan upacara yang namanya tebusan. Tebusan ini bermakna diambil dengan mahar atau dimahari.
Namun, makna simbolis itu sekarang sudah bergeser dari ritual menjadi instrumental saja. Sehingga, saat ini makna kembar mayang hanya berfungsi dekoratif.
Penggunaan kembar mayang pengantin dalam pernikahan juga tidak terlepas dari mitos yang menyertainya. Sebagian masyarakat meyakini jika tidak ada kembar mayang di acara pernikahan, maka kehidupan tidak akan harmonis dan mudah berpisah.
Mitos ini berkembang di beberapa daerah di pulau Jawa bagian tengah dan timur. Namun, faktanya tanpa keberadaan kembar mayang-pun pengantin tetap bisa hidup langgeng dan harmonis
Mitos lainnya adalah bunga kembar mayang yang layu di pernikahan adalah pertanda buruk bagi pernikahan kedua mempelai. Faktanya, bunga yang dipakai untuk kembar mayang memang tidak awet.
Bunga dapat layu sewaktu-waktu khususnya jika berada di suhu tinggi dan kering. Terlepas dari mitos dan fakta tersebut, kembar mayang pengantin tetap menggambarkan betapa masyarakat Jawa memandang pernikahan sebagai sesuatu yang sakral.
Bunga dapat layu sewaktu-waktu khususnya jika berada di suhu tinggi dan kering. Terlepas dari mitos dan fakta tersebut, kembar mayang pengantin tetap menggambarkan betapa masyarakat Jawa memandang pernikahan sebagai sesuatu yang sakral.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....