Logam Tumang, Kerajinan yang Terjaga Selama Berabad-abad

  • 29 Mei 2024 09:04 WIB
  •  Semarang

BRN, Semarang: Boyolali biasanya identik dengan susu. Tetapi, tahukah Anda kalau Kabupaten Boyolali punya kerajinan logam yang sudah menjadi mata pencaharian masyarakat selama berabad-abad?

Sesuai namanya, logam ini diproduksi oleh para perajin yang ada di kawasan Dukuh Tumang, Desa Cepogo.

Bak kerajinan perak di Kotagede, Yogyakarta, kerajinan logam ini sudah menjadi mata pencaharian utama di wilayah Tumang. Hanya saja, bahan utama yang digunakan kebanyakan berasal dari tembaga dan kuningan.

Di sepanjang jalan desa, Anda bisa menemukan jajaran rumah yang berkembang menjadi tempat produksi dan penjualan logam. Dukuh Tumang juga menjadi satu-satunya sentra kerajinan logam di Indonesia yang masih menggunakan metode tradisional secara handmade.

Secara geografis, Dukuh Tumang berada di antara kaki Gunung Merapi dan Merbabu. Pilihan mata pencaharian di wilayah dengan tanah subur seperti ini umumnya adalah petani atau peternak.

Pergantian profesi secara besar-besaran ini tak lepas dari pengaruh salah satu keluarga kerajaan Mataram Islam. Bernama Kyai Rogosasi pada abad ke-16, saat itu, ia menetap di Tumang bersama empu-empu yang mendampinginya.

Kyai Rogosasi dan salah satu empu yang bernama Supondriyo punya keahlian untuk membuat senjata dari logam. Namun, karena di masa itu sedang tidak ada perang, keterampilan mengolah senjata ini mereka alihkan.

Membuat alat rumah tangga berbahan dasar logam adalah pengalihan pekerjaan saat aman tersebut. Hal ini menarik perhatian masyarakat Dukuh Tumang pada saat itu.

Perlahan, mereka mulai mempelajari keahlian tersebut. Hasil yang baikpun didapatkan dengan penjualan yang menguntungkan.

Seiring waktu, keahlian ini mereka ajarkan secara turun temurun hingga generasi sekarang. Bahkan, warga di luar Dukuh Tumang yang masih berada dalam kawasan Desa Cepogo pun turut menjadi pelaku industri kerajinan logam.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....