Ajaran Luhur dalam Serat Tripama

  • 20 Mei 2024 09:52 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Serat Tripama adalah salah satu karya KGPAA Mangkunagara IV yang cukup singkat. Hanya berisi 7 bait tembang Dhandhanggula.

Serat ini sering ditembangkan oleh anak-anak sekolah dan dikutip sebagai lirik dalam musik gamelan. Secara ringkas berisi tentang teladan bagi para prajurit agar berwatak ksatria, gigih tidak takut dalam membela negara.

Kata tripama sendiri berasal dari gabungan kata "tri" yang bermakna tiga dan "upama" berarti perumpamaan. Merujuk pada tiga tokoh dalam dunia pewayangan.

Yaitu Patih Suwanda dari Maespati, Kumbakarna dari megeri Alengka dan Adipati Basukarna dari Awangga. Ketiganya digambarkan mempunyai loyalitas dan dedikasi yang tinggi pada negaranya.

Ketiga ksatria itu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan keluarga. Sikap ketiganya juga menggambarkan berbagai macam nilai yang ada di dalam Etika Jawa.

Patut menjadi suri teladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun sifat baik dan buruk itu merupakan sesuatu yang melekat pada diri setiap orang.

Apalagi lelemahan masing-masing tokoh telah ditebus dengan darma baktinya. Yaitu nuhoni trah utama pada diri Sumatri, nuhoni kasatriyane ing tekad labuh negari pada Kumbakarna dan ciptanira harsa males sih pada Karna Basusena., sehingga ketiganya pantas dijadikan suri tauladan sikap keprajuritan.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....