Asal Usul Tradisi Tingkeban
- 15 Mei 2024 11:49 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Dalam tradisi jawa, seorang wanita yang pertama kali hamil, saat usia kehamilan tujuh bulan, melaksanakan tata upacara yang disebut tingkeban, atau ada juga yang menyebut mitoni. Tahukah anda mengapa upacara tersebut disebut tingkeban?
Tersebutlah kisah pada zaman Kerajaan Kediri, pada masa pemerintahan Raja Jayabaya, hiduplah sepasang suami istri bernama Niken Satingkeb dan suaminya bernama Sadiyo. Selama berumah tangga Satingkeb telah melahirkan sembilan anak, namun sayang anak mereka tidak berumur panjang dan semuanya meninggal dunia.
Rasa sedih dan duka menyelimuti pasangan ini, lalu mereka menghadap raja untuk meminta petunjuk atas cobaan yang dialami. Singkat cerita sang Raja memerintahkan untuk mandi dengan air suci pada hari rabu dan sabtu dengan menggunakan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa disertai membaca doa.
Setelah mandi bersih dan mengenakan kain kemudian menjatuhkan dua butir kelapa gading melalui jarak perut dan pakaian. Langkah selanjutnya melilitkan daun tebu wulung pada perut Niken Satingkeb dan kemudian daun itu dipotong oleh Sadiyo dengan menggunakan keris.
Setelah mendapatkan petunjuk dari sang Raja, Sadiyo dan Satingkeb segera pulang dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Raja Jayabaya. Akhirnya Niken Satingkeb dianugerahi seorang anak dan melahirkan dengan selamat. Hingga sekarang tradisi ini masih berlangsung dengan kreasi yang disesuaikan dengan tradisi masyarakat setempat.
Berdasarkan kisah inilah maka acara tujuh bulan kehamilan disebut TINGKEBAN.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....