Perjalanan Menemukan Wayang Kedu yang Usang

  • 11 Jul 2023 19:35 WIB
  •  Semarang

Oleh : Sofyan Dika Fauzi, Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Amikom Yogyakarta


Sebelum adanya masa kemerdekaan, Kedu adalah sebuah wilayah yang luas, tidak hanya Kabupaten Temanggung saja. Dahulu batas wilayah dibatasi dengan sebutan karisidenan, beda dengan sekarang yang batas wilayah geografisnya dibatasi oleh kabupaten, kecamatan, desa, dan sebagainya.

Menariknya, Desa Kedu ada di daerah Kabupaten Temanggung. Konon ada dalang bernama Ki Lebdajiwa yang berasal dari Desa Kedu merintis wayang dengan gaya daerahnya, yaitu gaya Kedu.

Berdasarkan naskah "Riwayat Pertumbuhan/Kehidupan Wayang Kulit Gaya Kedu" yang disusun oleh Sri Soedarsono, disebutkan bahwa seni pewayangan gaya Kedu dirintis oleh seorang dalang bernama Ki Lebdajiwa atau Ki Panjangmas yang berasal dari Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Pada awal mulanya Ki Panjangmas dan anaknya yang bernama Ki Marawangsa adalah dua tokoh seniman yang aktif membangun seni pewayangan di daerahnya.

Selain mendalang keduanya juga mengajar tentang cara membuat wayang dan tehnik mementaskannya. Pembuatan wayang pada zaman kehidupan Ki Panjangmas masih menggunakan cara dan alat yang sederhana. Wayang terbuat dari bahan dasar kulit kerbau yang sudah dikeringkan, ditatah dengan pangot dan dibentuk sedemikian rupa sehingga mendapat wujud yang dikehendaki.

Kegiatan kedua seniman ini akhirnya diketahui oleh penguasa kerajaan Surakarta yang waktu itu sedang mencari bentuk seni pewayangan, perlu diketahui saat itu daerah Kedu berada dalam wilayah pemerintahan Surakarta. Oleh sebab itu, dipanggilah keduanya untuk mendapat pembenahan dan tambahan ilmu.

Sepeninggal kedua seniman tersebut, murid-muridnya tetap melanjutkan kegiatan. Dari hasil kerja mereka terbentuk wayang-wayang yang kemudian dikenal sebagai wayang Kedu. Perhatian kerajaan Surakarta masih berlanjut dengan dikirimnya seorang ahli wayang bernama Ki Ajar Prabuanom untuk ikut membangun seni pewayangan daerah Kedu.

Sampai akhir hidupnya Ki Ajar Prabuanom dimakamkan di Desa Tanggulanom, Kecamatan Tembarak, Temanggung.

Dalam Serat Centhini, disebutkan bahwa Ki Panjangmas adalah seorang dalang wayang gêdhog purwa dari Desa Kedu pada zaman pemerintahan Sri Surya Anyakrawati atau Pangeran Seda Krapyak di Mataram tahun 1601-1613 Masehi. Keterangan ini terdapat pada pupuh ke 139 yaitu pupuh Salisir, pada pada ke 35-41, 53 dan 54, yang berbunyi sebagai berikut.


35. Ing sajumênêngnya nata, Sri Surya Anyakrawatya, rama dalêm Sri Naréndra, ingkang jumênêng samangkya.

(Ketika bertahtanya raja, Sri Surya Anyakrawatya ayahanda raja yang memerintah sekarang).


36. Amamangun wayang purwa, baboné Kidang Kêncana, jinujud mung sawatara, sasigaring palêmahan.

(Membuat wayang purwa bersumber Kidang Kencana yang dipanjangkan separuh dari palêmahan).


37. Arjunané pinaringan, panêngran Kiyai Jimat, iku wiwité kang wayang, purwa lan gêdhog sinungan,

(Tokoh Arjuna diberi nama Kyai Jimat, inilah awal mula wayang purwa dan gedhog diberi).


38. Bau lan tangan pinisah, tangan cinampuritan, myang winuwuhan dhagêlé, myang winuwuhan gagaman.

(Bahu dan tangan dipisah, tangan diberi cempurit serta ditambah wayang dhagel dan senjata).


39. Panah kêris sapadhanya, bangsaning landhêp sadaya, paripurna karsa nata, banjur ana uwong manca.

(Panah keris dan sebagainya yang berupa senjata tajam, setelah selesai keinginan raja itu, kemudian ada orang dari luar negara).


40. Saka Kêdu asalira, bisa dalang gêdhog purwa, banjur kaabdèkake dadya, dalang sajroning nagara.

(Dari Kedu asalnya, mahir mendalang gêdhog purwa, yang kemudian menjadi abdi dalang kerajaan).


41. Kaparêngé Sri Naréndra, wayang bèbèr pangruwatan, sinalinan wayang purwa, katêlah têkèng samangkya.

(Oleh karena perintah raja, wayang bèbèr pangruwatan diganti dengan wayang purwa, berlaku hingga sekarang).

53. Lah mung niku kawruhingwang, crita witing ana wayang, kang miyarsa samya girang, matur pundi turun dalang.

Hanya demikian pengetahuan saya mengenai cerita adanya wayang, yang mendengarkan merasa gembira serta bertanya, yang mana dalang itu.

54. Ki Sumbaga astanira, anudingi lah kaé ta, kang sèndhèn saka rawa, Ki Panjangmas

(Ki Sumbaga tangannya menunjuk, itu orangnya yang bersandar saka rawa, namanya Ki Panjangmas).


Kutipan di atas menerangkan, bahwa pada zaman pemerintahan Sri Surya Anyakrawati atau Pangeran Seda Krapayak di Mataram tahun 1602-1613 Masehi, pernah hidup seorang dalang dari Kedu bernama Ki Panjangmas yang kemudian diangkat menjadi abdi dalang pangruwatan dalam lingkungan istana kerajaan Mataram.


Tokoh Wekudara wayang Kedu

tokoh Werkudara, wayang Kedu


Menurut R. Tanaya seperti yang dikutip Groenendael menyebutkan, pada masa pemerintahan Susuhunan Anyakrawati yang wafat di Krapyak, ada seorang bernama Pangeran Panjangmas alias Mufti Mandika. Ia mempunyai tiga orang anak, seorang laki-laki dan dua perempuan. Pada waktu itu seorang dalang dari Kedu bernama Lebdajiwa datang di istana dan didudukkan di bawah pengayoman Pangeran Panjangmas.


Kemudian Lebdajiwa dikawinkan dengan anak Pangeran Panjangmas yang bernama Retna Juwita. Pada tahun 1627 Masehi dalam masa pemerintahan Sultan Agung tahun 1613-1645 Masehi, dalang Lebdajiwa mendapat perintah mendalang untuk Ratu Kidul (permaisuri gaib raja-raja Mataram yang berdiam di Laut Selatan). Ketika itu anjang yang digunakan menaruh sesaji pertunjukkan berubah wujud menjadi emas.


Oleh karena itu, Lebdajiwa diberi nama Anjangmas. Sesudah ayah mertuanya meninggal iapun dikenal sebagai Kyai Panjangmas II.

Sejarah diatas jika dibandingkan dengan beberapa informasi yang saya dapat secara langsung atau sumber lisan, mungkin terasa simpang siur dengan apa yang sudah dijelaskan di dalam naskah “Riwayat Pertumbuhan/Kehidupan Wayang Kulit Gaya Kedu” oleh Sri Soedarsono. Perjalanan saya dari ujung Temanggung hingga Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mencari informasi tentang Wayang Kedu membuahkan banyak versi sejarah yang menarik untuk diungkap.


Kerumitan dari banyaknya versi sejarah menjadi bagian dari rasa penasaran saya akan wayang Kedu. Penelusuran informasi tentang sejarah wayang Kedu saat itu saya awali dengan bertemu dalang Ki Sindhu Dwiyanto di Dusun Gedangan, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Ki Sindu merupakan putera dari dalang pewaris tradisi Kedu generasi ke-10, yaitu Ki Wasana yang saat ini sudah tidak lagi mendalang karena faktor usia.

Informasi sejarah yang saya terima ketika berbincang dengan Ki Sindhu, beliau mengatakan ada 2 versi sejarah yang diketahuinya. Yang pertama, dahulu Ki Lebdajiwa mempelajari memainkan wayang dan membuat wayang saat berada di Demak, lebih tepatnya saat Raden Patah berkuasa.

Yang kedua, versi ini mengatakan bahwa dahulu wayang Kedu dimainkan setiap selesai sholat Jumat oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga di Demak. Sejarah lisan ini memiliki sedikit kesamaan dengan apa yang dikatatakan oleh Ki Wasana di dalam naskah “Riwayat Pertumbuhan/Kehidupan Wayang Kulit Gaya Kedu” oleh Sri Soedarsono, salah satunya pernyataan bahwa Ki Lebdajiwa dahulu mempelajari memainkan wayang dan membuat wayang ketika berada di tanah Demak.

Dari keterangan tersebut bisa disimpulkan kalau Wayang Kedu lahir ketika agama Islam sudah masuk di Nusantara.

Beda cerita ketika saya berkunjung ke salah seorang dalang sekaligus pembuat wayang yang bertempat tinggal di Dusun Kranggan, Kabupaten Temanggung. Beliau adalah Ki Legowo Ciptokarsono. Sebuah obrolan santai, Ki Legowo mengira-ngira bahwa bisa saja kalau Wayang Kedu sudah ada sebelum Islam masuk di Nusantara.


Hal ini bisa dilihat dari gunungan wayang Kedu. Biasanya apa yang ada di gunungan merupakan gambaran kehidupan ketika wayang itu diciptakan. Nah, pada gunungan wayang Kedu sendiri bentuk atau elemen-elemen didalamnya menggambarkan kehidupan sebelum masuknya agama Islam di Nusantara ini. Seperti bentuk Yoni atau Candi yang jelas terpampang di gunungan wayang Kedu, yang menggambarkan kehidupan pada zaman pra-sejarah.

Jadi, jika informasi lisan sejarah ini dibandingkan dengan sumber dari Ki Sindu dan Ki Wasana pada naskah “Riwayat Pertumbuhan/Kehidupan Wayang Kulit Gaya Kedu” oleh Sri Soedarsono, tentu hasilnya bertolak belakang.


Selain itu Ki Legowo juga mengatakan kalau informasi sejarah yang didapat dari hasil penelitiannya tentang wayang Kedu menjelaskan bahwasanya saat itu ketika Ki Lebdajiwa berangkat ke keraton ialah saat dirinya masih perjaka atau belum mempunyai istri bahkan anak. Sumber sejarah ini mungkin terasa simpang siur lagi jika dibandingkan dengan informasi sejarah yang ada didalam naskah “Riwayat Pertumbuhan/Kehidupan Wayang Kulit Gaya Kedu” oleh Sri Soedarsono. Pada naskah tersebut menjelaskan bahwa Ki Lebdajiwa mempunyai anak bernama Ki Marawangsa yang juga aktif mendalang dan membuat wayang pewayangan gaya Kedu.


Terasa membingungkan memang, namun atas semua informasi sejarah ini sedikit dapat diluruskan ketika saya bertemu dengan salah satu dalang wayang Kedu di ujung barat Kabupaten Temanggung.


Pindah ke ujung barat Kabupaten Temanggung, tepatnya di Desa Tening, Wonoboyo, ada dalang bernama Ki Yatman Siswo Wisono. Tempat tinggalnya dekat dengan perbatasan antara Kabupaten Temanggung dengan Kendal. Beliau merupakan dalang pewaris tradisi Kedu seperti Ki Wasana.


Persoalan silsilah dalang wayang Kedu dari generasi pertama dapat sedikit diluruskan ketika saya bertemu dengan Ki Yatman ini. Sepengetahuan Ki Yatman, kalau Ki Marawangsa merupakan dalang pewaris tradisi Kedu generasi ke-4. Pertama, tentu Ki Lebdajiwa, kedua adalah Ki Redisuto, yang ketiga ada Ki Redisuto II, baru setelah itu Ki Marawangsa. Rasanya masuk akal jika informasi dari Ki Legowo dikaitkan dengan informasi yang saya dapat dari Ki Yatman.


Namun tetap saja bertolak belakang jika dikaitkannya dengan penjelasan yang terdapat di naskah “Riwayat Pertumbuhan/Kehidupan Wayang Kulit Gaya Kedu” oleh Sri Soedarsono.


Literatur sejarah wayang Kedu juga saya dapatkan ketika bertemu dengan Pak Jito, juru kunci makam Panjangmas di Gunung Kelir, di Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Beliau mengatakan kalau Ki Panjangmas adalah dalang Ki Lebdajiwa Beliau juga menyebutkan nama dalang Ki Soponyono adalah dalang Ki Panjangmas juga. Menurut Bapak Jito, kedua nama tersebut berbeda namun orangnya sama.

Gelar Panjangmas sendiri turun sampai 3 generasi, yang pertama di Makam Gunung Kelir, kedua ada di Makam Imogiri, lalu yang ketiga berada di Ndelanggu, Klaten, ucap Pak Jito, juru kunci makam Gunung Kelir. Beliau juga mengatakan kalau dalang Ki Lebdajiwa tidak mempunyai keturunan atau anak.

Memang rumit rasanya jika berbicara tentang sejarah untuk diluruskan. Banyaknya versi sejarah dari masing-masing orang yang dituturkan secara lisan oleh generasi ke-generasi justru menambah kekayaan sejarah budaya Indonesia, terutama wayang Kedu ini.

Tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang salah, kesimpulan boleh dibulatkan oleh siapa saja atas kepercayaan masing-masing individu.


Beralih ke pembuatan wayang Kedu, ini adalah bagian yang tak kalah menariknya dengan persoalan sejarah sebelumnya. Titik penasaran disini ialah tentang bagaimana orang pada zaman dahulu dengan segala keterbatasannya bisa membuat mahakarya wayang Kedu. Jawaban atas rasa penasaran ini saya temukan ketika bertemu dengan dalang Ki Sindu.


Foto Ki Sindu


Menurut Ki Sindu, warna yang ada di wayang Kedu terbuat dari bahan alami di sekitar kita. Diantaranya warna hitam terbuat dari langes, warna putih terbuat dari tepung bijih ceplikan, atau dari dari abu tulang kerbau, lalu warna hijau terbuat dari daun kara yang diambil sari warna daunnya dengan cara ditumbuk, warna merah terbuat dari bahan bijih gendhulak yang dijadikan tepung, warna kuning terbuat dari serbuk batu-batuan, warna prada terbuat dari serbuk emas, warna biru sendiri tidak diketahui, dan warna-warna lain adalah campuran dari warna yang sudah disebutkan.

Keunikan wayang Kedu tidak berhenti sampai disini saja. Wayang Kedu yang usang dan kurang populer di masyarakat umum ternyata menyimpan banyak cerita menarik didalamnya. Bentuk wayang bukan sekadar bentuk wayang yang tidak mempunyai arti, filosofi terkandung di jati diri wayang Kedu. Dimulai dari bentuk wayang yang lebih besar dibandingkan dengan wayang gaya lain.

Hal ini menjelaskan, bahwa masyarakat daerah Kedu pada kala itu memiliki kehidupan yang makmur sebab sektor pertaniannya yang maju. Lalu setiap tokoh wayang Kedu yang lebih menunduk, mengartikan bahwasanya masyarakat Kedu umumnya bersikap andhap asor atau sikap sopan santun dan rendah hati. Terakhir adalah sunggingan atau ornamen pada wayang Kedu yang nampak sederhana namun berwibawa. Pesan yang terkandung bahwa kesederhanaan kewibawaan itu tidak harus dengan kemewahan.

Sudah semestinya kita harus menjaga kekayaan budaya yang ada, salah satunya wayang Kedu ini. Mahakarya wayang Kedu yang organik, sederhana dan apa adanya, menjadi nilai karya seni yang autentik. Jangan sampai perjuangan nenek moyang kita dalam berkarya dan berseni dengan mudahnya ditinggalkan, lalu dilupakan begitu saja. Kita adalah pewaris, kita juga adalah penerus.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....