Kayla, Mahasiswa Tunanetra UIN Walisongo Praktek KKN Ajari Komputer Tunanetra

  • 19 Sep 2026 18:00 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kendal - Sebagai penyandang tunanetra, bukan berarti tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi. Pasalnya, kemajuan teknologi saat ini telah berhasil menciptakan peralatan canggih yang bisa digunakan bagi penyandang tunanetra.

Kayla Anugrah Suryono, seorang penyandang tunanetra yang tinggal di Desa Meteseh Kecamatan Boja Kabupaten Kendal pun tidak menyia-nyiakan kemajuan teknologi. Kayla, yang saat ini kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang telah menguasai komputer khusus untuk tunanetra.

Ia pun memanfaatkan keahlian yang dimiliki untuk berbagi kepada sesama penyandang tunanetra. Selain itu juga memilih melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Yayasan Komunitas Sahabat Mata di kawasan Jatisari Kecamatan Mijen, Semarang, setiap akhir pekan sejak Agustus hingga September ini.

Di depan layar komputer, Kayla, mahasiswi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, membimbing beberapa temannya sesama penyandang tunanetra untuk belajar mengoperasikan komputer. Komputer tersebut bisa mengeluarkan suara sintetis dari perangkat pembaca layar JAWS dan NVDA, yang membacakan setiap huruf, menu, dan perintah di layar komputer

Kegiatan mengajar komputer ini merupakan bagian dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pengakuan, salah satu jenis KKN yang disediakan UIN Walisongo Semarang bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Berbeda dari KKN reguler yang mengharuskan mahasiswa tinggal dan mengabdi di sebuah desa selama beberapa pekan, KKN Pengakuan memberi keleluasaan bagi mahasiswa disabilitas untuk merancang sendiri program pengabdian yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Sebagai laporan pelaksanaannya, setiap peserta diwajibkan menulis berita tentang kegiatan yang dijalankan. Kayla sendiri, yang juga penyandang tunanetra, memilih mengabdi di Komunitas Sahabat Mata, karena tempat tersebut merupakan lingkungan komunitas yang ia ikuti selama ini.

Kayla mengatakan, dalam kelas yang digelar rutin setiap Minggu itu, ia mengajarkan penggunaan pintasan keyboard, cara berpindah menu, membuka dokumen, hingga mengetik dengan mengandalkan suara dari screen reader sebagai pengganti mata. Ia mengaku dirinya sendiri belum sepenuhnya menguasai kedua perangkat lunak tersebut, sehingga proses mengajar sekaligus menjadi proses belajar baginya.

"Jadi setiap ngajar itu, aku sebenarnya juga sekaligus belajar lagi, sama-sama dengan teman-teman yang aku ajar," katanya. Kayla mengaku, dalam proses belajar-mengajar, tidak selalu berjalan mulus.

Terkadang, ada peserta yang kurang sabar mengikuti tahapan belajarnya, yang ingin cepat-cepat selesai belajarnya, padahal ia sendiri belum bisa mempraktikkan materi yang diajarkan dengan cukup lancar. "Sempat kesal juga sih waktu itu, tapi aku sadar sebagai pengajar aku harus tetap sabar menghadapi orang yang seperti itu, karena ritme belajar setiap orang kan beda-beda," ujar Kayla. (FR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....