Kemijen Bangun Citra Baru, Tak Lagi Identik dengan Kampung Rob
- 31 Agt 2026 14:24 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Julukan kampung langganan rob perlahan ingin ditinggalkan warga Kemijen melalui berbagai kegiatan berbasis seni, sejarah, dan budaya. Selama bertahun-tahun, kawasan Kemijen identik dengan banjir rob yang membuat aktivitas masyarakat terganggu dan lingkungan terdampak.
Stigma tersebut bahkan berkembang melalui anggapan kendaraan warga Kemijen mudah berkarat karena sering terendam air laut. Kondisi itu kemudian mendorong Hysteria bersama warga mencari cara memperkenalkan Kemijen dari sisi berbeda kepada masyarakat luas.
Salah satunya diwujudkan melalui Festival Kali Banger yang rangkaiannya berlangsung sepanjang Agustus dengan melibatkan masyarakat setempat. Festival Kali Banger tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai sejarah dan persoalan kampung.
Co-Founder Hysteria, Purna Cipta, mengatakan festival tersebut menjadi salah satu cara mengumpulkan warga sekaligus menjalankan proses advokasi. “Selain mengumpulkan warga, berbahagia bersama, ini adalah proses advokasi terhadap apa yang kemudian terjadi di jaringan kampung.” ujar Purna, Senin 31 Agustus 2026.
Persoalan lingkungan memang masih menjadi tantangan Kemijen, terutama penurunan muka tanah yang disebut mencapai sekitar sepuluh sentimeter pertahun. Penurunan tersebut membuat posisi kawasan semakin rendah sehingga ancaman rob dan genangan menjadi persoalan berkelanjutan bagi warga.
Kondisi itu diperparah kenaikan muka air laut serta sedimentasi sungai yang meningkatkan risiko limpasan menuju permukiman. Meski demikian, Hysteria menilai Kemijen tidak semestinya hanya dikenal berdasarkan persoalan banjir, rob, maupun stigma lingkungan tersebut.
Riset yang dilakukan Hysteria menemukan berbagai pengetahuan lokal, sejarah, serta potensi yang selama ini kurang diketahui masyarakat. Kemijen memiliki jejak sejarah perkeretaapian, termasuk keberadaan beberapa stasiun yang pernah menjadi bagian penting kawasan tersebut.
Pengetahuan tersebut kemudian dikemas melalui seni, mural, forum, kegiatan warga, serta berbagai rangkaian Festival Kali Banger. Menurut Purna, seni dipilih sebagai medium karena tidak semua masyarakat mudah mengakses pengetahuan melalui hasil riset berbentuk tulisan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....